"Ayah dong tanya sama Evan, uang jual rumah kemana, uangnya?" tanya istrinya seraya mengungkit masalah tentang rumah mertuanya pada suaminya. Istrinya lagi hamil anak ketiga, ia merasa tidak adil saja dengan penjualan rumah karena semua uangnya di kuasain sama adik iparnya.
"Iya, gua juga nggak dapat bagian dan jual rumah aja gua nggak tahu," di timpali sama Alan yang emang siang itu ada di rumah kakak pertamanya.
"Tuh yah, adik ayah aja nggak tahu dan nggak kebagian, ya'kan Lan? Ayah harus tanyain sama Evan kalau perlu tanyain sama ibu kemana uang hasil jual rumah. Jangan di pegang aja sama Evan," seperti manas-manasin suami dan adik iparnya kata istrinya sembari beranjak bangun menahan perutnya yang buncit lalu menghampiri suaminya.
"Iya, nanti coba ayah tanyain sama Evan."
"Gua juga minta bagian duit hasil jual rumah ayah ibu sama Evan."
Makin panas semakin tergosok hatinya oleh omongan wanita yang sedang hamil sudah sejak dari dulu memang ia tidak menyukai adik iparnya.
"Loe San, harus ngomong kalau perlu minta aja bagian loe sama gua. Gua lagi butuh duit nih buat bayar spp sekolah anak, terus sama buat bayar kontrakan rumah," tambah lagi di gosok sama adik ketiganya bayangannya bakalan dapat duit banyak.
Sanusi cuman menggaruk kepala sembari mikir, bagaimana caranya ia minta bagiannya sama adik keduanya itu. Ia cuman bengong perhatiin istrinya sedang hamil dan sebentar lagi bakalan butuh uang untuk biaya kelahiran dan belum untuk bayar spp sekolah anaknya. Adik dan kakak semakin di buai impian semu, impian mereka jika sebentar lagi akan mendapatkan uang bagian dari penjualan rumah yang selama ini, uangnya di kuasain sama Evan.