TANGIS YANG TAK PERNAH PERGI

Herman Siem
Chapter #10

Kenangan Terakhir Bersama Ibu

Yang pada akhirnya sakit ibu sudah berangsur pulih sembuh, walau hatinya masih tertekan terkadang ingin menjerit menyuarakan tangisan rasa kesal pada anak-anak lainnya, tapi tidak mungkin di lakukan karena pasti akan menambah akar masalah yang tidak hentinya. Senyumannya sangat sumringah, terkadang tersenyum seraya meledek cucu yang sangat di sayanginya. Ia siang itu sedang berada di kebun binatang, di ajak oleh Evan dan istrinya serta anak bungsunya. Tidak sedikitpun ada rasa lelah, ia merasa semangat saat berjalan mengelilingi kebun binatang melihat aneka macam satwa. Evan begitu bahagia saat jalan-jalan bersama keluarga kecil dengan bersama ibu dan adik bungsunya, mereka sejenak berdiri depan kandang jerapah melihat dan memberikan makan sayuran. Tak ada rasa lelah, mereka semuanya berjalan kaki seraya semua mata kaki bersuka cita sebagai petunjuk jalan. Jepretan demi jepretan foto saling bergantian di ambil dari handfhone miliknya Evan.

"Ayo sekarang rame-rame. Kita selvie. Satu, dua, tiga." dua matanya berkaca-kaca seraya menahan haru menoleh anak keduanya saat tangannya mengarahkan foto pada semuanya tersenyum dan bergaya. Mereka makan dengan menu yang sama, menyewa tikar untuk menikmat hamparan hijau yang ada di dalam kebun binatang beratap langit cerah. Adik bungsunya juga merasa ikut bahagia melihat ibunya begitu semangat dan selalu melempar senyuman pada anak, cucu dan menantunya. "Farel sini gendong sama nenek?" menantunya cepat memberikan anaknya untuk di gendong sama neneknya. Berkali-kali ciuman mendarat di wajah dan bibir cucunya seraya ia merasakan bahagia, jika neneknya sangat sayang sekali padanya. Tersenyum haru Evan melihatnya, jika ibunya sangat sayang pada anaknya seakan tidak ingin lepas dari gendongan dan pelukan hangat neneknya. Pantas saja memantunya istrinya Sanusi terkadang sirik, ia merasa jika anak-anaknya tidak di sayang dan sampai di peluk seperti itu oleh neneknya, andai istrinya Sanusi sampai tahu maka akan sangat marah sekali.

***

Entah apa pikiran anak-anaknya masih saja datang silih berganti dengan alasan yang berbeda meminta uang dan membuat ibunya selalu berpikir harus bagaikan. Ada uang sedikit tentunya anak-anak itu tidak mau mengambil, justru akan membuatnya semakin meradang marah. Sampai Alan saking marahnya, ia menuding ibunya sontak pecah tangis meratapi cobaan hidupnya yang belum tuntas, bila anaknya yang di lahirkannya begitu berani sampai memukul wajahnya. Padahal saat masih kecil anak itu, tangannya selalu di ajarkan untuk berbuat kebaikan kini justru tangan ini telah melakukan kejahatan pada ibu yang telah melahirkannya.

"Pantas saja ibu sering sakit-sakitan, karena ibu jahat! Ibu jahat! Ibu lebih baik cepat mati! Ahh!" kepalan tangan kanannya anak ketiganya mendarat tepat di mata sebelah kanan sampai membuat ibunya menangis sesenggukan menahan sakit. Hampir terjadi keributan saat Evan tahu akan membalas mukul adik ketiganya yang cepat di lerai ibunya. "Keterlaluan loe sampai mukul ibu! Ahh!" "Evan jangan, jangan. Ibu tidak apa-apa," lerai ibunya sembari kencang sekali mencengkram lengan kiri anak keduanya agar tidak memukul adiknya. "Ibu juga si selalu aja ngasuh, selalu aja belain Alan! Gini jadinya'kan, asal datang minta duit kalau nggak di kasih marah, ngancam, mukul!" menahan geram Evan masuk kedalam kamar menemai anaknya sedang tertidur.

Siang itu Alan ingin meminta uang, jika ia mau kerja di luar kota dan ia habis bertengkar dengan istrinya. "Evan, tolong kasih adikmu, ibu hanya ada sedikit tidak cukup," ada rasa tidak enak hati ibunya lagi-lagi meminta bantuan memohon pada Evan agar memberikan uang pada adiknya, agar adiknya tidak berlama-lama menyakiti hatinya terus. "Nih, pergi loe dari sini!" lembaran duit di lemparnya dari balik pintu dan cepat di ambil Alan lantas pergi begitu saja setelah meninggalkan rasa sakit dan sedih pada mata bagian kanan ibunya. Setelah anak ketiganya pergi kini kembali datang menantunya siang itu membawa anaknya, istrinya Sanusi habis bertengkar dengan suaminya. "Ibu kasih tahu sama anak ibu! Jangan malas! Nih! Saya mau cerai sama Sanusi!" kedatangan menantunya justru membuat kian bertambah luka dan sedih ibu mertuanya.

Lihat selengkapnya