TANGIS YANG TAK PERNAH PERGI

Herman Siem
Chapter #11

Pesan Terakhir Ibu

Tahu ibunya sakit, anak-anak yang lainnya tidak datang barangkali saja untuk sekedar melihat keadaan ibunya atau sekedar menitip pesan agar ibunya lekas sembuh. Terlebih Sanusi masih marah dengan ibunya, ia masih bersikeras untuk tidak melihat ibunya yang sebenarnya seorang ibu sangat sayang pada semua anaknya, ia tidak pernah membeda-bedakan dan jika punya uang tentu akan sama memberi dengan rata. Karena keadaan membuatnya ia kesulitan, hingga ia terpaksa memohon seraya menekan pada anak keduanya untuk selalu membantu anak-anak yang lain. Sebenarnya Evan tidak ingin melawan atau berselisih paham dengan ibunya yang selalu menekannya harus membantu saudaranya yang sebenarnya mereka bisa mencari uang, tapi terkadang mereka malas dan sudah terbiasa mengandalkan ibunya. Evan menyadari jika saudara-saudaranya sejak dari dulu sudah terbiasa selalu datang untuk meminta pada ibunya saking sayang dan memanjakan anak-anaknya.

Hingga jadi terbiasa setiap anak-anaknya datang selalu ada pada saat mereka meminta bantuan, jika tidak ada mereka akan marah dan melawan. Walau gimana juga ibu adalah seorang ibu, walau ia punya kesalahan tetaplah seorang anak harus berbakti dan peduli. Tapi ini tidak satupun anak yang datang melihat keadaan ibunya. Karena paksaan dan desakan seseorang membuat anak pertamanya datang melihat ibunya, itu juga kedatangannya masih membawa kesedihan bagi ibunya. "Udah makan?" tanyanya dingin pada ibunya, yang seharusnya ia datang dengan membawa harapan bagi ibunya agar cepat sehat. Ini tidak, justru kedatangannya membuat ibunya kian sedih saat ia justru memarahi ibunya. "Lagian ibu juga si?" "Ibu benaran tidak bisa bantu," lagi-lagi anak pertamanya menyalahkan namun di tepis ibunya dengan nada lirih.

***

Rasanya sang pemilik semesta berkata lain pada pemilik rahim itu yang selama hidupnya telah mengandung kelima buah hati dalam rahimnya. Sang pemilik semesta pada akhirnya merasa semakin iba dan semakin sedih melihatnya, hingga ia mengirimkan awaknya untuk mengajaknya kembali pulang menjemput seorang ibu yang betapa sulitnya untuk mengusir tamgisan yang selalu mendera hidupnya. Kembali pulang untuk kembali padanya untuk selama-lamanya. "Farel, nenek sudah makan?" tanya ayahnya pada anaknya sembari di gendongnya masuk kedalam kamar. Ayahnya baru pulang menjemput istrinya pulang, sore itu perasaan tidak enak saat melihat ibunya lelap tertidur. Sedangkan Tari, istrinya karena sudah penat dengan pekerjaan dan di jalan macet, ia bergegas masuk kedalam kamar mandi untuk membasuh sekujur tubuhnya.

Lihat selengkapnya