Sungguh malang tak dapat di utung, tak dapat kembali setelah seorang ibu pergi untuk selama-lamanya dengan membawa kesedihannya yang sungguh sangat mendalam. Rumah yang selama ini selalu terdengar suara rintihan kesakitan, suara mengi sesak napas yang membuat napasnya terasa sungguh menyiksanya dan suara lambung yang tidak bersahabat, kini rumah terasa sunyi sepi hanya terasa keheningan berselimut kesedihan.
Kerpergian seorang ibu kian membuat kesedihan mendalam yang tak tahu sampai kapan kesedihan itu akan beranjak pergi. Tiada mudah kesedihan itu beranjak pergi dari benak anak kedua yang selama ini berjuang untuk ibu serta untuk saudara-saudaranya. Evan, setelah ibunya tiada ia merasa sungguh sangat kehilangan dan selalu tidak kuasa menahan kesedihan tangisan serta tidak bisa berpaling ingatannya tentang mimpi pahit dan bahagia bersama ibunya.
Hatinya merasa bersalah berucap maaf berjuta kata tentu percuma saja, seraya ia sudah bermandikan dosa besar tak terampuni. Sungguh sangat berdosa pada almarhumah ibunya, semua sudah terlambat seperti bubur tidak akan kembali bisa menjadi nasi. Ia mengakuinya jika kepergian ibunya karena ulah dan perbuatannya, hingga ia tidak mau menyalahkan siapa-siapa.
"Ayah emang bersalah sama ibu, ayah sudah ngelawan ibu," Evan berusaha tidak mau menangis karena istrinya sedang meninabobokan anaknya.
Istrinya beranjak bangun menoleh padanya dan sembari menyelimuti anaknya sudah terlelap tidur dan menyelimuti dengan selimut motif boneka.
"Ayah, jangan merasa bersalah atau berdosa. Setiap yang lahir pasti ia akan pergi, ya caranya emang berbeda-beda," istrinya tersenyum sembari menghela napas lalu menarik kursi pelan lalu di dudukinya seraya menatap dalam suaminya sedikit berkerinyit keningnya.
"Ayah ngerasa bersalah aja sama ibu, ayah udah ngelawan ibu. Dosa ayah sama ibu udah banyak," tandasnya seraya ia merasa sungguh sangat bersalah ingin menangis tapi di tahannya.
"Kalau ibu perhatiin, ayah nggak ngelawan sama ibu. Ayah cuman emang nggak tahan aja sama sikap ibu, ya ibu sangat manja sangat sayang sama anak-anaknya yang lain seperti: Sanusi, Alan, Pepen dan Rika. Mereka kalau mau minta sesuatu atau mau apa-apa harus ada, terkadang kalau aku perhatiin permintaan saudara-suadara ayah nggak masuk akal dan selalu harus ada. Ya ibu'kan nggak punya uang sebanyak yang mereka minta, jadinya ayah yang selalu di mintain tolong sama ibu. Nah di sisi lain ayah juga pusing di maintain terus-terusan, jadi ayahnya marah kesal dan marah-marah sama ibu," istrinya beranjak bangun, ia tersenyum duduk di sampingnya sudah tidak kuasa menahan sedih hingga hatinya terkulik mengajak dua matanya mulai berkaca-kaca.
"Prang! Bletak! Prang!" suaranya benda jatuh kelantai terdengar di lempar dari luar. Evan dan istrinya bergegas beranjak bangun dan segera keluar, istrinya menutup pintu kamar pelan-pelan tidak mau anaknya terjaga bangun.
"Ayah?!" terkejut Evan melihat ayahnya mabok melempar membanting semua perabotan kelantai padahal belum lama di beresin sama Evan.
"Ayah mabok lagi?" tanya menantunya rada ketakutan berdiri di belakang suaminya.
"Ahh! Ayah benci sama kalian! Sejak ibu nggak ada, apa kalian mau tahu tentang ayah?! Kalian cuman budakin ayah aja! Ahh!" suara tudingannya seraya tidak sadar jika lelaki tua itu makin mabok karena minuman. Tetangga ingin tahu, mereka melihat dari luar pagar rumah yang cepat pintu di tutup oleh istrinya Evan.
"Apa-apaan si yah, ibu emang udah nggak ada. Tapi Evan sama Tari nggak ngerasa ngebudakin ayah!" Evan membantah ayahnya dengan nada tinggi saking keselnya.