Farel bahagia ketika janji ibunya tidak ingkar padanya, ia tidak peduli walau tab yang baru di belikan ibunya tidaklah sebagus tab kepunyaan teman-teman di sekolah. Hati orang tua mana yang tidak bahagia walau punya uang sedikit namun bisa membelikan tab murah untuk anak tercintanya. Seraya anak itu begitu bahagia, ia juga tidak melupakan janjinya bermain tab setelah bangun tidur siang dan sesudah mengerjakan pekerjaan rumah, pr dari sekolah. Anak sekecil itu begitu patut dan penurut pada ayah dan ibunya, walau masih kecil ia tahu batasan untuk main tab dan kewajibannya sebagai anak.
Siang telah berganti malam membawa taburan jutaan bintang bermain di balik sinar indah indung rembulan malam. Semua penghuni alam semesta sesaat membaringkan setiap relung jiwanya melepaskan penat seharian membanting tulang dan memutar otak untuk menyambung hidup. Tapi tidak dengan Evan, ia tidak bisa tidur malam itu dengan dua matanya masih terjaga dan hatinya selalu di bisiki kecemasan. "Apa ini dosa-dosa saya ya Tuhan setelah ibu nggak ada. Apa ini hukum karma yang saat ini sedang saya jalani karena saat ibu masih ada, saya melawan sama ibu?" kian berbisik hati kecilnya terkulik dengan kecemasan dan rasa bersalah sudah mengulik benaknya terhantar kecemasan. Hingga rasa bersalahnya itu mulai di rasakannya dan semakin menjadi dalam hidupnya setelah orang yang melahirkannya sudah tiada. Pandangannya terhenti, dua matanya masih jelas terjaga seperti ada pentol korek api mengganjal dua matanya agar tidak lekas beranjak pejamkan dua matanya.
Ia menghela napas dalam di sertai kecemasan makin melanda hatinya, sontak dua matanya berkaca-kaca sedih tanda air mata semakin tidak kuat tertahan akan segera menangis ketika melihat istri dan anaknya tertidur sangat lelap diatas ranjang sederhana. Ia berusaha tidak ingin air matanya membanjiri wajahnya setengah berbalik sembari dua tangannya menarik selimut menyelimuti anak dan istrinya. Kali ini air mata tidak dapat terbendung saat tatapan sungguh dalam menatap wajah anaknya seraya sedang bermimpi indah dalam tidurnya. Lalu Evan menoleh tab tergeletak di meja nakas dan di ambilnya, air matanya kian tak terbendung basahi tab cepat di sekanya dengan gurasan telapak tangan kanannya.
Lalu pandangannya menoleh kotak tab ada di rak rusun plastik. Ia beranjak turun dari ranjang dan mengambil kotak yang kemudikan di masukannya tab kedalam kotak. "Maafin ayah," singkat bisikannya dalam hati sekali lagi Evan menoleh anaknya takut-takut terjaga bangun dan pastinya akan pecah tangis jika maksudnya malam-malam buta ia berniat untuk menjual tab milik anaknya. Karena kebutuhan mendesak cicilan yang harus segera di bayar, jika tidak maka suara dering handfhone selalu terdengar dan kata-kata kasar juga selalu membuat benaknya tidak bisa berkata apa-apa saat penagih bank terus menroror menangih istrinya.
Evan juga tidak sempat bicara dengan istrinya, jika tab yang baru di beli untuk Farel sudah di jualnya. "Bu, tab aku mana? Aku mau main. Dari tadi aku cari-cari kok nggak ada," tanya anaknya rada kecut kesal pada ibunya melirik suaminya sedikit bingung menghampiri anaknya. "Tab kamu ayah jual, ayah janji bakalan beliin lagi yang bagusan," jawab ayahnya dengan dua matanya berkaca-kaca. "Yah?" cepat istrinya menarik keluar suaminya dari kamar. "Ayah gimana si kenapa ngejual tab kepunyaan Farel, ibu'kan baru beliin?!" rada gusar istrinya bertanya pada suaminya diam seribu kata perhatikan pintu kamar terbuka lebar, takut jika anaknya tiba-tiba keluar bertanya lagi padanya. "Ayah terpaksa jual tab yang baru ibu beliin buat Farel. Ayah butuh uangnya, ayah nggak mau ibu di terror sama bank. Ayah kasihan sama ibu," terenyuh istrinya menahan kesedihan apa yang di perbuat suaminya semata-mata hanya kasihan padanya.