TANGIS YANG TAK PERNAH PERGI

Herman Siem
Chapter #14

Gara-Gara Duit Jual Rumah

"Kakek pulang yuk," ajak cucunya sembari menarik lengan kanan kakeknya menahan amarah. Sedih anak sekecil itu hanya di biarkan saja oleh kakeknya seraya acuh tak peduli. Padahal jika ada kakeknya di rumah ia begitu sangat bahagia sekali, bisa ada teman bermain. Kali ini kakeknya masih merajuk tidak mau pulang walau menantu dan anak keduanya siang itu datang berusaha membujuknya agar segera pulang. "Nggak, ngapain pulang! Sana kalian pulang saja!" kakeknya makin marah sembari mengambil botol minuman keras kosong seraya ingin melemparnya. Anak keduanya paham jika itu yang selalu di lakukan ayahnya, ia pergi jika sedang banyak masalah dan kadang pulang juga tidak lama tinggal di rumah. Pergi ketika sedang pusing saat mendengar anak-anaknya bertengkar.

"Ayah pulang, ngapain di sini?" ajak menantunya seraya ia tidak tega melihat ayah mertuanya jika tidak pulang tidur di pasar, tidurnya di atas lapak dagangannya. Pandangan anak keduanya terenyuh sedih bercampur bingung melihat dagangan ayahnya masih banyak, ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Sejak istrinya tidak ada, kelakukannya makin menjadi dan katanya ayahnya lagi suka sama wanita penghibur. Namun walau bagaimana ia tetaplah seorang ayah yang harus di hormati. Saat anak-anak masih kecil, orang tua dapat merawat dan mengurus kelima anaknya. Saat ini masa kelima anaknya tidak bisa merawat orang tuanya. Sedangkan anaknya keduanya berusaha untuk membujuk ayahnya agar pulang dan anak kedua dan istrinya berjanji tidak lagi menitipkan anaknya lagi. Walau sudah berapa hari ini anaknya ikut mengantar jemput dengan naik motor mengantar dan menjemput ibunya pulang kerja, dan sempat demam. Walau sempat kepikiran anaknya sakit namun yang penting anaknya kini selalu bersama ayah dan ibu.

"Pulang sana! Pulang!" di bentaknya lagi cucunya menangis sedih cepat di gendong ibunya sedikit jengkel dengan ayah mertuanya. Evan tidak bisa berbuat apa-apa dengan sikap keras ayahnya, ia menyadari sudah membuat ayahnya marah dan kecewa padanya. Padahal Evan dan istrinya sudah memastikan pada ayahnya, jika mereka berdua tidak lagi akan menitipkan Farel padanya. Evan terenyuh sedih melihat ayah terduduk menatap dagangannya yang masih banyak, tidak laku, tidak ada yang membeli. Padahal masih banyak pembeli lalu lalang di pasar, apa karena ayahnya bermain gila dengan wanita penghibur membuatnya jadi apes dan dagangannya tidak laku. Benar saja, baru berapa langkah Evan dan istrinya berjalan datang seorang wanita menghampiri ayahnya. Dengan rayuannya begitu manis pada ayahnya yang langsung saja memberikan berapa lembar uang kertas pecahan lima puluh ribuan untuk wanita penghibur itu. Evan dan istrinya serta anaknya masih dalam gendongan begitu sabar berusaha untuk menerima keadaan. Ketiganya yakin, jika masih ada hari esok yang indah sedang menunggunya.

***

Lihat selengkapnya