TANGIS YANG TAK PERNAH PERGI

Herman Siem
Chapter #15

Impian Keluarga Bahagia

Evan sungguh merasa telah capek dengan keadaan semua ini, ia belum lagi menanggung beban keluarganya sendiri dan belum permintaan serta rong-rongan saudara-saudaranya. Ia juga sering bertengkar kecil dengan istrinya hanya masalah ekonomi. Karena keadaan membuat saudara-saudaranya yang selalu masih mengandalkan beban padanya, padahal mereka sudah punya keluarga masing-masing. Kali ini bebannya sedikit berkurang saat adik bungsunya sudah bekerja, namun cobaan itu kembali datang lagi tidak tahu sampai kapan dan berujung manis. Harapan Evan pada adik bungsunya sangat besar, namun semua itu jauh dari harapannya saat Rika berkenalan dengan seorang lelaki.

Seyoganya seorang kakak tidak pernah melarang adiknya untuk berteman dengan siapa saja, yang terpenting keinginan kakaknya hanya satu ingin kelak nanti adiknya hidup berbahagia. Nyatanya, adik bungsunya kini berbeda arah, justru ia mulai berani melawan pada kakak keduanya yang kian sangat bersedih hatinya. Adik bungusnya merasa jika selama ini ia berteman dengan pilihannya calon suaminya yang sekarang ini, katanya selalu di halangi seraya di larang, padahal tidak. Justru kakaknya sangat senang jika adiknya memiliki calon hidup jauh lebih mapan. Sampai adik bungsunya berani melawan dan mengadukannya pada kakak pertamanya dengan ketidak sukaan kakak keduanya pada calon suaminya.

Padahal selama ini kakaknya sudah berusaha untuk segalanya dan selalu memenuhi keinginan adik kesayangannya itu. Waktu adiknya hendak melanjutkan sekolah SMA, kakaknya sampai rela menjual handfhonenya dan apapun di lakukan untuk adiknya, walau sendiri ia sedang dalam kesulitan. Mungkin saja sekarang ini ia berani, karena segala bantuan yang pernah di terimanya, sudah di kembalikan. Sampai adiknya mengadu pada kakak pertamanya, jika kakak keduanya melarang calon suaminya, karena mereka ada rencana untuk segera menikah. Sedih bercampur marah namun ia tahan saja, walau terasa sakit di dadanya jika selama ini ia merasa air susu di balas air tuba, namun tidak mengapa.

"Loe jangan ngelarang Rika terus dong, Van. Mau loe apa si?" tudingan kakaknya tidak berdasar pada adiknya menahan amarahnya. "Lagi ada ibu, Rika loe larang sama yang ini, sama yang itu. Sekarang loe nggak bisa ngelarang Rika sama yang ini!" tudingannya makin menjadi pada adiknya makin menahan sabar. Adiknya hanya tersenyum, walau dua matanya berkaca-kaca menahan sedih atau amarah menatap kakaknya yang segitu sangat membela. "Siapa bilang gua ngelarang calon suaminya Rika. Justru calon suaminya Rika pertama kali dia datang nemunin gua. Kalau gua nggak suka, waktu dia pertama kali aja gua larang. Gua nggak ngelarang dengan calon suaminya Rika yang ini!" saking sewotnya Evan beranjak bangun dan menunjuk Sanusi terdiam salah tingkah menahan malu dan gusar.

"Gua paham Sanusi, Rika punya impian pengen punya keluarga bahagia. Begitu juga sama kayak gua. Gua pengen punya keluarga bahagia. Tapi gua nggak tahu sampai kapan keluarga gua bisa hidup bahagia, kalau loe dan lainnya terus ngerong-rong gua!" masih belum puas adiknya kembali menuding kakaknya cepat beranjak bangun pergi. Gusar Evan cepat menutup pintu, seraya rumah itu selalu jadi bahan tudingan setiap hari baginya dan selalu jadi tempat tumpuan bagi saudara-saudaranya. Siapapun tidak akan sanggup untuk selalu meladeni semua keinginan, permintaan dan rong-rongan yang semakin membuat Evan dan keluarganya semakin tidak berdaya.

Lihat selengkapnya