Setiap impian rumah tangga tidaklah selalu mulus ingin selalu sesuai harapan dan impian, nyatanya selalu datang perselisihan kecil dan keadaan ekonomi yang menjadi faktor pertengkaran. Dalam keadaan sudah terlebih merasa tidak di akui oleh mertuanya membuat Evan semakin berpikir dalam jauh dalam kesedihan. Sejak ia menikah dengan Tari, sampai detik ini mertuanya kurang perhatian padanya. Beda dengan menantu yang lainnya yang selalu di akui dengan segala keadaan ekonominya cukup baik. Namun ia tetap berusaha sabar dan berdoa serta keyakinan, jika suatu hari ia bisa hidup berbahagia memiliki materi yang cukup untuk anak dan istrinya.
"Apa karena ayah miskin, beda dengan menantu-menantu yang lain mereka ada dan di akui? Kita lagi susah nggak ada yang bantuin, malahan keluarga ayah yang datang ngerong-rong terus. Kali aja kita lagi susah, ibu dan ayah kamu mau bantuin kita," papar suaminya sembari mandiin anaknya dalam kamar mandi, sedangkan istrinya mengepel lantai. "Yah, lebih baik kita begini apa adanya. Susah senang bahagia selama ini kita nggak minta bantuin sama siapapun, terutama sama orang tua ibu. Nggak apa-apa yah, kita nggak di anggap karena keadaan kita. Ibu yakin, nanti suatu hari kita bisa hidup bahagia, bisa punya segalanya," "Iya yah pasti nanti kita bakalan hidup bahagia, punya mobil dan punya uang banyak," istrinya tersenyum berdiri di lorong koridor pendek berhadapan kamar mandi ketika di timpali anaknya seraya menguatkan ayahnya.
Memang benar kehidupan Evan dan keluarganya hanya cukup untuk bayar cicilan rumah, bayar spp sekolah dan makan sehari-hari. Terlebih sekarang ini istrinya juga harus mengeluarkan uang lebih untuk ongkos kerja, beda waktu mereka tinggal di kota selalu di anter jemput suaminya naik motor. Walau sejenak tidak ada rong-rongan dari saudaranya, kali ini ada saja yang membuat Evan dan istrinya pusing dan sempat bertengkar. "Kalau ayah ada uang, ayah juga nggak panik dan sebingung seperti sekarang ini!" suaminya mulai gusar tapi masih menahan emosinya. "Ibu paham yah, tapi keadaan kita lagi terdesak, kita harus bayar cicilan yang tertunggak! Belum bayar spp sekolah Farel! Pusing ibu kalau terus-terusan gini, yah!" istrinya juga semakin cemas dan meminta suaminya untuk berpikir. Evan hanya terdiam menoleh anaknya terduduk sembari belajar yang tidak bisa konsentrasi karena ayah dan ibunya bertengkar.
"Apa saudara-saudara ayah bisa bantuin saat kita lagi sudah, nggak'kan yah! Kita lagi bengini mereka mana mau bantuin kita! Yang ada kalau mereka lagi ada perlunya dong mereka datang kesini, minta duit harus ada!" "Brugg!" makin sewot jengkel istrinya setelah puas memarahi suaminya, istrinya masuk kedalam kamar menutup pintu kencang. Guratan raut wajah Farel semakin tidak kuasa menahan kesedihan, ia hanya terdiam sejenak perhatikan buku perlahan basah oleh tetesan air matanya mendengar melihat ayah dan ibunya bertengkar. Sungguh malang nasib kisah kehidupan Evan, padahal ia begitu peduli pada saudara-saudaranya saat ada tidak ada selalu di tolongnya. Ia hanya berdiri di teras rumah sekali pandangannya melongok kiri jalan hanya ada kesepian dan sekali menatap kanan barisan rumah seraya berpura-pura tidak tahu dengan pertengkarannya dengan istrinya barusan terjadi.
***
Dalam keadaan sakit, tubuhnya seraya ringkih untuk di gerakan, itu yang terjadi pada lelaki tua itu sedang sakit. Ia kini kembali pulang kerumah anak bungsunya yang rumahnya tidak jauh dari rumah kakak keempatnya. Rika setelah menikah dengan suaminya sekarang ini, hidupnya cukuplah lumayan ada. Namun Rika sama saja dengan Evan, ia juga tidak henti-hentinya selalu di datangi saudara-saudaranya yang seperti biasa datang selalu meminta bantuan dan tidak lagi mendatangi Evan karena sudah semakin muak dengan saudara-saudaranya yang datang selalu meminta bantuan.