TANGIS YANG TAK PERNAH PERGI

Herman Siem
Chapter #18

Di Bangkit-Bangkit Lagi

Benar rasanya bila rumah bukanlah tempat berlindung dari hujan dan panas saja, dan bukan untuk tempat membaringkan tubuh saat lagi terdesak kepenatan. Padahal Evan dan keluarga selalu mendambakan jika rumahnya saat ini menjadi tempat di mana ia dan keluarga selalu menebar senyum canda dan tawa. Justru selalu datang amarah bertabur kesedihan, lalu setelah yang menaburkan amarah ia begitu saja pergi meninggakan rumah seraya mencuci tidak berbuat kesalahan. Hanya Evan dan keluarganya yang selalu menanggung beban malu pada tetangganya setelah saudara-saudara membuat ulah di rumahnya.

"Habis ini loe pergi, habis bikin masalah, bikin ulah. Gua malu sama orang-orang sini, udah loe pulang!" "Itu urusan loe, bukan urusan gua. Yang penting gua minta duit bagian jual rumah!" memang tidak ada pikiran adik ketiga ia merasa tidak peduli pada kakaknya semakin di gelayuti kepenatan memintanya segera pulang. "Kak, duit jual rumah ayah sama ibu, emang benar Kak Evan yang pegang, tapi semuanya udah habis! Buat bayar hutang ayah sama Kak Sanusi! Kakak nggak ingat apa, lagi kakak mau nikahan? Itu uang dari mana, itu uang dari Kak Evan! Selama ini Kak Sanusi, Kak Alan dan belum Pepen selalu fitnah Kak Evan di omongin sana-sani! Kalau Kak Evan pegang semua dan nguasain uang jual rumah punya ayah dan ibu. Itu nggak benar kak!" Tari yang tadinya diam menahan sabar, kali ini kesabarannya hilang berani menuding adik iparnya makin tersenyum dingin seraya ia tidak terima dengan tudingan kakak iparnya.

"Jadi loe bangkit-bangkit?!" makin kesal makin kencang suaranya terdengar sampai keluar rumah. "Bukan bangkit-bangkit Alan, harusnya loe mikir dong. Uang jual rumah ayah sama ibu nggak seberapa, benar uang itu gua yang pegang. Tapi loe tahu'kan waktu itu ibu sakit, ayah sama Sanusi malahan main judi. Terus bayar hutang sana-sini. Ya emang nggak seberapa sama duit-duit yang gua kasih buat loe dan lainnya," makin kehilangan kesabarannya, Evan beranjak bangun membuka pintu lebar seraya menyuruh pulang adiknya.

"Hidup loe enak di sini, punya rumah sendiri. Gua masih ngontrak!" akhirnya Alan beranjak bangun sembari memakai sepatu namun mulutnya masih belum habis menggerutu kesal. "Prangg!" ia membuka pintu gebang dan di tutupnya kencang kemudian berjalan pergi tanpa membawa hasil uang yang di pintanya. "Capek ayah begini terus, ayah di omongin terus masalah uang jual rumah milik ayah ibu. Padahal uang itu sudah habis buat bayar hutang ayah sama Sanusi, waktu itu ayah juga sering minta uang sedikit-sedikit. Salahnya ayah waktu itu ayah nggak catat. Uang jual nggak banyak, nggak sebanyak uang yang ayah kasih buat saudara-saudara ayah," Evan menghela napas mengambil jaket mendekati motor. "Bu, ibu sana istirahat aja. Biar ayah saja yang jemput Farel pulang sekolah." kata Evan sudah duduk di motor sejenak menatap wajah istrinya memang pucat sedang sakit. Motor berjalan pergi setelah istrinya membuka pintu gerbang dan kembali di tariknya.

***

Lihat selengkapnya