Mendung tidak berarti akan turun hujan, namun kesedihan yang kian mengulik benak hati pasti akan mengular dan menjadikan kepastian akan turun tetesan air mata membasahi guratan wajah yang selalu tertegun dalam kepasrahan. Sampai kapan semua akan berlalu, akan beranjak pergi tidak hanya sekedar dalam mimpi namun kenyataan kehidupan pahit ini. Sejak sepeninggalan ibunya yamg pergi selama-lamanya meninggalkan dunia fana semakin bersahabat abadi dengan pemilik semesta ini. Evan seraya tidak lagi berdaya, ia selalu terkenang selalu berharap bisa bertemu dengan dengan ibunya walau hanya dalam mimpi. Tangisan kesedihan yang menjadi sahabatnya hampir setiap hari selalu menyembabi wajahnya, padahal apapun akan ia lakukan demi hanya untuk bertemu dengan ibunya, walau ia harus merelakan segalanya hanya untuk menatap wajah dan mengatakan jutaan maaf pada ibunya. Semua seraya sulit untuk di wujudkan, hanya air mata kerinduan yang selalu hinggap yang selalu menghasilkan derai rintik hujan air mata penuh sesal tak berujung.
"Ayah kangen sama ibu?" tanya istrinya, siang itu panas sangat terik sekali sampai tetesan air mata mendingin suasana hati suaminya yang kian rindu dengan ibunya yang telah pergi. "Ayah, nanti kita ketempat ibu habis itu kita jalan-jalan kepantai," di timpali anaknya yang kini Farel sudah mulai beranjak dewasa, ia siang itu baru selesai belajar duduk di samping ayahnya sejenak menoleh padanya. "Boleh, besok kita beramgkat ketempat nenek," tersenyum kecil walau dua matanya masih berkaca-kaca sembari bibirnya di dekatkan pada pipi anaknya tertawa kecil melihat ayahnya sudah tersenyum.
"Farel, sana tidur siang," ujar ibunya menarik lengan kanan anaknya beranjak bangun dan sebelum beranjak jalan bibir anaknya seraya membalas mencium kening ayahnya semakin tersenyum haru. Lalu anaknya beranjak jalan masuk kedalam kamar, ia lalu terbaring di ranjang dan sejenak menoleh pada ayah dan ibunya masih terduduk di ruangan tengah. "Ayah nggak ngerti sama keadaan ayah, bu. Padahal kita sudah mengalah, kita sudah pindah jauh. Kita bukan ingin terpisah dari jauh saudara-saudara ayah. Ayahnya hanya ingin menenangkan pikiran, tapi nyatanya," "Yah, walau gimanapun juga, mereka-mereka saudara-saudara ayah. Mereka pikir, ayah saat ini jauh lebih baik dari mereka, keadaan kita. Walau mereka nggak tahu tentang sebenarnya keadaan kita gimana sekarang, mereka nggak peduli. Mereka datang meminta, ya ayah harus ngasih. Ibu tahu, ayah orangnya nggak tegaan itu yang di manfaatin sama mereka," papar istrinya tersenyum haru sejenak menoleh menatap guratan wajah suaminya sedikit terpancing senyum walau tidak sumringah.
***
"Kakekmu mana?" tanya Rika pada anak gadis kecilnya, ia sedang bermain masak-masakan sendirian di ruangan tengah yang berantakan banyak berceceran mainan di lantai. "Tadi kakek pergi, pergi di jemput sama temannya," jawab anaknya sembari tangan kanannya mengangkat kulai kecil dari kompor-komporan. Sontak saja panik, ibunya cepat bergegas membuka pintu gerbang dan melongkkan pandangannya kiri dan kanan hanya terlihat kesunyian sepi jalan perumahan. "Baru aja sembuh dari sakit, ini udah jalan lagi!" Rika gusar menggerutu sembari menarik pintu gerbang kembali di tutupnya. Hatinya kian terasa emosi, kian terasa tidak bisa lagi memendam rasa amarahnya sontak di lampiaskan pada anaknya. "Kamu tuh biasa ya, kalau habis main cepat beresin!" cepat anak gadis kecilnya merapihkan mainan dan di masukan kedalam keranjang. "Dari tadi main terus, sudah belajar belum?!" makin emosi ibunya pada anaknya cepat menarik kursi dan mengambil buku dan segera di bacanya. Hati anak itu kian ketakutan dengan ibunya yang seraya ia semakin marah, kemarahannya karena ayahnya pergi tidak tahu kemana.