Langit seraya akan selalu gelap tanpa sinar cahaya indung rembulan malam menerangi rumah, rumah impian yang selalu berharap akan datang kebahagiaan. Ada saja onak kerikil tajam selalu melukai benak setiap penikmat malam saat terbaring tidur setelah lepas siang hari berperang dengan rasa kepenatan. Padahal ketiganya sedang terlelap tidur bermimpi indah, mimpi tentang satu cita yang semestinya sesaat lagi akan di raihnya, mimpi kebahagiaan utuh dari satu keluarga yang selama ini selalu terenggut oleh tangan-tangan yang selalu memasang wajah memelas, meminta di sertai rong-rongan.
"Kring! Kring!" suara dering ponsel terdengar di sertai getaran di atas meja nakas memecah kesunyian malam. Suara dering handfhone berapa kali terdengar hampir terjatuh saat pemiliknya merasa terganggu dan terjaga bangun cepat di jawabnya. "Hallo?" masih terasa mengantuk, matanya masih sepet dan sekali menguap. "Kak, ayah sakit." suaranya terdengar tipis terdengar dari lobang speaker handfhone segera di letakan kembali oleh Evan di meja nakas. "Yah?" istrinya bertanya rada terkejut dan merangkak menghampiri suaminya duduk di ranjang membelakangi anaknya terlelap tidur. "Rika ngabarin, ayah sakit lagi," Evan menghela seraya hatinya semakin cemas dan gelisah. Istrinya langsung turun dari ranjang, tangan kanannya sudah meraih jaket di sertai Evan beranjak bangun menggelengkan kepalanya. "Ibu temanin saja Farel, biar ayah saja sendiri," istrinya mengangguk ragu sembari menoleh jam dinding menunjukan pukul dua belas malam lewat lima menit. Evan bergegas memakai celana panjang dan memakai jaket serta mengambil kunci motor di meja.
***
Rika menahan amarah dan sedih memberikan obat dan membantu minumkan air untuk ayahnya terbaring seraya menahan rasa sakitnya kali ini sungguh sangat sakit di rasakannya. Apa ayahnya saat ini sudah tidak ingin lagi bermimpi dengan wanita penghibur yang hanya ingin uangnya saja. Atau karena ia sakit merasa menyesal dan hanya bisa pasrah dengan kekecewaan anaknya pada dirinya lagi-lagi bikin susah. Belum saat istrinya masih, lelaki tua yang kini sudah tak berdaya, kalah itu selalu menebar kesedihan dengan istri berharap kapan ia pulang kerumah.
"Lagian, baru sembuh bukannya di rumah aja. Ini malahan keluar lagi?!" Rika gusar sembari meletakan gelas di meja. "Sudah bu jangan marah-marahin ayah. Kasihan ayah," "Sudah-sudah apaan si! Ayah tuh emang keras kepala. Sekali-kali harus di kasih tahu! Kalau begini, kita'kan yang repot!" suaminya menenangkan istrinya semakin marah bercampur cemas dan pikirannya kian di amuk kegelisaan mendalam. "Ayah pasti nemuin wanita itu lagi'kan? Jawab ayah, jangan diam aja?!" gelas di pegangnya ingin rasa di banting oleh Rika semakin emosi dan meletakan gelas di meja.