Kembali jatuh sakit, uang sepeserpun tidak tertinggal di saku celana dan kini ia di tinggalkan teman wanitanya selama ini hanya menginginkan uang saja. Belum lagi tentang tingkah anak-anaknya semakin membuat rasa sakitnya semakin membuat seorang ayah kian tidak berdaya. Suami yang berapa tahun berlalu sudah di tinggalkan istrinya pergi menghadap pemilik semesta, ia seraya tidak kapok dan jerah dengan semua kesalahannya. Justru ia kembali menggali lobang kesalahannya yang sungguh sangat dalam. Ia terjebak dalam perbuatannya sendiri, ia benar bermain gila dengan wanita penghibur tanpa peduli dengan anak-anaknya yang sangat menyayangkan dan sungguh sangat hina yang di lakukannya. Rasa menyesal dan bersalah saat ini tak berguna, ia hanya terbaring saking tidak berdaya seraya sakitnya karena sentuhan halus pemilik semesta padanya agar semakin mawas diri karena sudah berumur.
Tak hanya mengurus ayahnya yang sedang sakit, anak bungsunya mungkin saja sudah terlalu lelah capek mengurus anak gadis kecilnya dan belum mengurus rumah. Hampir setiap hari Rika mengurus ayahnya yang keras kepala walau sedang sakit, membuat anak bungsunya semakin hari membuat darah tingginya semakin naik, selalu emosi pada ayahnya. Walau sedang sakit tetap saja wataknya keras kepala tidak mau beranjak pergi selalu saja membuat keadaan semakin keruh, harus ayahnya dalam keadaan sakit ia berupaya mau menuruti anaknya semata-mata untuk kesembuhan sakitnya.
Bau perengus, pesing dan bau kotoran semakin membuat sumpek kamar tidak terlalu besar ukurannya. Bajunya sudah lusuh, rambutnya sudah gondrong di sertai kumis dan alis memutih. Makan dan minum tidak mau, minum obat saja masih terlihat utuh aneka macam obat tergeletak di meja. Padahal anak bungsunya agar tidak keras kepala, sering ia menahan sabar mengurus ayahnya, tetap saja ayahnya menolak tidak mau mandi, tidak mau makan dan tidak mau minum obat. "Kalau ayah nggak mau di urusin, kapan bisa sembuh dari sakit!" saking kesalnya sembari menahan bau, dua tangan Rika mendorong bagian punggung belakang ayahnya. Sisa kotoran yang kering masih tersisa di bagian belakangnya, tanpa jijik dan geli cepat dua tangan Rika langsung membersihkan dan melipat pempers penuh dengan sisa kotoran sudah mengering. Kasur sudah penuh bercak warna kuning menyatu dengan kotoran dan air pipis segera di gantinya. Ayahnya hanya diam terbaring menyamping seraya ia kini bersedih berlinang air mata, raut wajahnya tergurat pucat seraya hatinya kian terkulik kesedihan.
"Buat apa ayah nangis, peruma ayah nangis. Lagian ayah keras kepala juga si, susah di kasih tahunya. Habis ini ayah minum obat, kalau nggak mau minum obat, terserah!" pempers sudah di gantinya, walau menahan bau cepat di masukan kedalam kantong plastik. "Yah harus makan, kalau nggak mau makan gimana minum obat!" mulutnya tidak ingin makan, semakin gusar dan sewot sampai ujung sendok di paksa maksa kedalam mulutnya tetap saja tidak mau terbuka. "Ayah nggak mau makan," jawabnya semakin membuat anaknya gusar meletakan piring berisi makan. "Ayah sudah di urusin, ayah emang keras kepala! Harusnya ayah sadar dong, aku capek yah," Rika menangis sesenggukan sembari menyeka air matanya bergegas meninggalkan ayahnya terbaring tidur sendirian.
Tidak tahu apa yang sedang di pikirkan dalam benaknya, selagi ia sehat sering membuat istrinya capek hati dengan sikapnya dan perangai buruknya. Apa ia sedang meratapi rasa bersalahnya hingga membuat istrinya sudah tiada cepat pergi. Belum lagi dengan anak-anaknya yang kini belum juga pada datang menjenguknya, kecuali Evan baru datang semalam melihatnya. Tiba-tiba ia tersenyum walau pandangan dua matanya berkaca-kaca dan samar. Lelaki tua itu tersenyum melihat sosok istrinya yang telah tiada berdiri tidak jauh darinya. Ia sontak menangis sesenggukan sembari tangan kanan seraya memanggil istrinya hanya menebarkan senyuman. Wajah istrinya sungguh bersinar, ia sepertinya tidak merasakan sakit lagi hanya sejenak dua matanya berkaca-kaca melihat suaminya terbaring sakit.
***