TANGIS YANG TAK PERNAH PERGI

Herman Siem
Chapter #22

Amarah Dan Sabar Teruji

Setiap hari dengan motornya melawan rasa dingin, walau pandangannya masih terlalu samar untuk menembus gelap malam. Terkadang hatinya menangis sedih walau tidak mengular pada dua matanya, di mana ia harus tetap berharap pada pemilik semesta agar ayahnya lekas sembuh. Dua roda motornya sudah sampai di depan pintu gerbang rumah adiknya. Ia bergegas turun dan mengambil kantong plastik berisi rantang makanan di cantelan motor, makanan itu untuk ayah yang sudah di masak oleh istrinya. "Rik, Rika buka pintunya," pelan suaranya Evan memanggil takut kiri kanan tetangga bangun.

Sejenak ia berdiri menunggu depan pintu sembari menoleh kiri kanan masih terasa gelap berselimut kabut tipis dingin. Pintu terbuka di tarik adik bungsunya dari dalam. Dua mata kakinya sontak terpejam seraya ketakutan melihat adiknya Evan membuka pintu gerbang, hingga du mata kakinya terpejam karena takut jika adiknya marah. Dua kaki Evan cepat mengajaknya masuk kedalam di sertai adiknya masuk kedalam kamar, mungkin ia membangunkan suaminya. Terenyuh sedih Evan sejenak menatap ayahnya masih terlelap dalam tidur, seraya ia semakin tidak berdaya melawan sakitnya yang membuat sekujur tubuhnya kurus.

Wajahnya semakin tirus selalu di ajak bermain dengan guratan kesedihan, sedangkan tubuhnya semakin kurus hanya tampak tulang berbalut kulit seraya tidak kuat lagi menahan sakit yang di deritanya. Anak keduanya menghela napas pelan seraya tidak kuat melihat penderitaan yang sedang di alami ayahnya. Benaknya berbisik sedih, jika ia bisa menukar rasa sakit ayahnya dengannya, Evan mau agar ayah bisa lekas sembuh. Namun pemilik semesta pastinya berkata lain, jika ayahnya sedang menjalani suratan takdir kehidupannya yang mesti harus di jalani. "Ayah, ayah bangun," pelan sekali suara Evan membangunkan sembari jemari kanannya menyentuh pundaknya.

"Evan?" ucap singkat ayahnya sedikit tersenyum pada anak keduanya sudah datang lagi. Sudah berapa hari ini anak keduanya sudah datang, ia tidak peduli dengan hawa dingin dan masih gelap sudah datang demi mengurus ayahnya. "Ayah makan, terus minum obat." kata Evan tersenyum walau hatinya teriris menangis melihat penderitaan ayahnya sekali, duakali dan tigakali mau membuka mulutnya untuk makan. "Tari sama Farel?" "Ada di rumah," selalu anak dan istrinya yang selalu di tanya ayahnya. Tidak di pungkiri jika cucu dan menantunya itu sangat di sayang sekali oleh ayah mertuanya. Justru kebalikannya jika Evan selama ini kurang di akui oleh mertuanya karena keadaannya saat ini yang jelas berbeda dengan ipar-ipar lainnya yang cukup berada.

"Ayah minum obat," ia tersenyum lagi sembari menyodorkan butiran obat kemulut ayahnya seraya berat untuk membuka mulut, terlihat bibirnya pecah-pecah dan pucat. Evan tidak bisa kuasa menahan tangisan dan kesedihan membantu minumkan butiran obat kemulut ayahnya dan di bantunya minum hanya seteguk air saja. Setelah makan dan minum obat, Evan panik melihat wajah ayahnya seperti menahan rasa mual dan sontak muntah. "Uueewh. Uueewh!" muntahannya sampai basahi bajunya. "Ayah muntah lagi? Tuh, obatnya jadi keluar! Gimana ayah bisa sembuh!" anak bungsunya makin geregetan saat ayahnya muntah lagi dan butiran obat ikut keluar bersamaan makanan. "Sabar Rika," lerai kakaknya pada adik bungsunya tiba-tiba sudah datang.

Lihat selengkapnya