TANGIS YANG TAK PERNAH PERGI

Herman Siem
Chapter #23

Tanda Kepergian Ayah

"Terus kalau ayah terus-terusan begini, sakitnya nggak sembuh, gimana dong?" tanya Evan pada keempat saudaranya hanya terdiam. "Ya gimana, gua juga lagi nggak punya duit," jawab Sanusi menoleh istrinya sontak beranjak bangun seraya ia tidak mau ikut campur dengan urusan keluarga suaminya. "Makanya loe-loe semua jangan bikin masalah terus, ayah sakit aja loe angkat angan. Lagi ayah sehat, loe cuman datang minta duit aja!" terdengarnya jelas masuk keliang kuping semua saudaranya tersenyum dingin seraya tidak terima. "Loe emang nggak pernah bikin susah ayah!" di sahutin Alan tertawa seraya tidak senang pada kakak keduanya. "Loe tuh, keterlaluan!" Sanusi menunjuk Pepen, seraya ia mengalihkan tudingan dan lupa jika selama ini ia anak tertua yang seharusnya bijaksana dengan adik-adiknya.

Namun selama ini Sanusi justru tidak adil dengan adik-adiknya, tentu semua adik-adiknya saling menyalahkan. "Udah-udah, kita semua salah sama ayah, sama ibu juga! Jangan saling nyalahin, jangan merasa paling benar. Kita semua udah banyak dosa sama orang tua!" gusar Evan beranjak bangun sembari menunjuk semua saudaranya sempat di lihat istrinya Sanusi. "Jadi loe nyalahin laki gua?" bantah istrinya Sanusi seraya tidak senang. "Loe tuh yang bikin ibu sampai meninggal dunia. Yah, kita pulang aja yuk. Asal loe tahu, ayah loe sakit bukan karena gua dan suami gua. Tapi emang ayah loe aja, nggak benar!" istrinya Sanusi kembali menuding adik iparnya masih menahan sabar. Sanusi dan istrinya sudah naik motor berjalan mengajaknya pergi meninggalkan Evan dan lainnya.

Langit sudah cepat berganti dengan gelap malam, rasa kecemasan dan ketakutan mulai menghantui pikiran anak bungsunya yang malam itu ia sedang menyuapi makan ayahnya. "Ayah makan ya, biar cepat sembuh," kata Rika, hatinya semakin ketar-ketir melihat keadaan ayahnya semakin kritis suapan pertama lagi-lagi keluar. Suara sesak parau napasnya semakin terdengar mengulik perasaan cemas Rika meletakan piring di meja, piring masih utuh nasi dan lauknya. "Rika, Evan mana?" tanya ayahnya ingin sekali anak keduanya segera datang. "Iya, iya sebentar nanti aku telpon Kak Evan," jawab Rika semakin panik ia bergegas berjalan keluar kamar.

"Kak, Kak Evan cepat kesini," suaranya terdengar dari dalam kamar, Rika sedang menghubungi Evan dengan hondfhonenya agar cepat datang. Ayah sejenak mendengar suara anak bungsunya kian panik saat menghubungi kakak keduanya agar lekas datang. Tersenyum ia melihat kedatangan istrinya lagi-lagi datang seraya ingin segera mengajaknya pergi. "Ayah?" bingung bercampur ketakutan saat Rika sudah masuk menghampiri ayahnya. Ayahnya hanya tersenyum menunjuk-bujuk sudut kanan dinding tembok, yang di lihat anaknya hanya lemari plastik saja. "Itu ibu datang." kata ayahnya sembari menunjuk-nunjuk lagi. Padahal jelas Rika menoleh melihat perhatikan hanya ada lemari plastik dan tumpukan pakaian di atasnya. Tapi beda dengan penglihatan ayahnya, dua matanya berseri-seri seraya jelas melihat istrinya memang ada sedang berdiri. "Rika, ibu mau ngajak ayah pergi," "Ayah jangan ngaco ahh. Nggak ada ibu di situ," kali ini suaranya benar jelas terucap dari ayahnya yang di bantah anaknya tidak percaya.

"Rika?" ujar Evan cepat menghampiri, ia datang bersama istri dan anaknya. "Kakek?" sedih cucunya melihat kakeknya mengelus wajah cucunya. "Ayah harus sembuh ya, yang semangat," kata menantu kesayangannya yang sangat di harapkan kedatangannya. "Maaf ayah, aku baru bisa datang," tambah Tari tidak kuasa melihat keadaan mertuanya. "Nggak apa-apa Tari, ayah senang kamu dan Farel sudah datang," jawab ayah mertuanya kali ini mulutnya terasa berat untuk bicara seperti terkunci. "Kak, ibu datang lagi," "Iya tadi ibu datang, ayah mau sama ibu," adiknya belum selesai beritahukan pada kakaknya sudah di timpali ayahnya.

Lihat selengkapnya