Setelah ayah tidak ada, hancur hati Evan hanya menangis dan air mata selalu datang tanpa di undang. Evan selalu mengenang dan selalu teringat ayahnya, di mana ia masa-masa berusaha untuk menguatkan dan memberi semangat pada ayahnya agar lekas sembuh. Akan tetapi pemilik semesta ini lebih tahu, ia lebih peduli dengan mengirimkan awak pemilik semesta agar segera mengajak pulang untuk menghadapnya. Kini ayahnya tidak lagi merasakan rasa sakit, ia sudah bersama istrinya di sana bersama pemilik semesta ini. Hanya doa-doa selalu terpanjat, selalu terucap dari lubuk terdalam anak keduanya senantiasa ayah dan ibunya selalu bersama di tempat pemilik semesta ini.
Deraian air mata selalu tiba-tiba datang, kalah ia tidak kuasa mengenang ayahnya masih sehat. Pesannya sama seperti saat ibunya sebelum pergi, jika ayahnya sempat mengucapkan kata permintaan maaf padanya. "Nggak ada orang tua bersalah pada anaknya, justru anaknya telah banyak berbuat salah dan dosa pada orang tuanya," guman dalam hatinya kian di bisiki kesedihan. Malam itu Evan masih terjaga dari tidur, setelah siang hari ia dan keluarganya baru saja mengantarkan ayahnya ketempat peristirahatan terakhirnya. "Yah, sudah malam belum tidur?" istrinya terjaga bangun lantas duduk di belakang suaminya masih duduk di ranjang. "Ayah belum ngantuk, ayah masih teringat ayah. Kasihan ayah, walau ayah pernah menyakiti ibu dan anak-anaknya. Tetap dia seorang ayah," Evan beranjak bangun lalu berbalik menatap sedih istrinya ikut larut dalam kesedihan.
"Saat ibu masih ada, tangisan ibu nggak pernah pergi. Tangisan ibu selalu terdengar. Kini ayah udah nggak ada, ayah sudah sama ibu. Apa tangisan itu akan pergi. Tidak, tangisan itu tak penah akan pergi. Akan selalu ada di hati ayah," menangis Evan, wajahnya basah dengan air mata. Lalu ia terduduk di ranjang dan di peluk istrinya dari belakang seraya menguatkan suaminya. "Ayah sekarang sudah tenang sama ibu di sana. Ya semoga aja: Sanusi, Alan, Pepen dan Rika, sama kita bisa akur," papar istrinya masih memeluk suaminya semakin sedih. Lalu Evan beranjak bangun, pandangannya dalam bercampur kesedihan menatap anaknya masih lelap tertidur. "Ayah berharap begitu bu, tapi ayah nggak yakin. Ayah capek sama saudara-saudara ayah," merasa tidak yakin Evan pada semua saudara-saudaranya, apakah setelah ayah dan ibunya sudah tiada, apa mereka bisa akur apa kata istrinya. Apa semuanya akan berubah tabiat dan sipatnya, itu rahasia waktu dan hanya waktu yang tahu.
***
Belasan tahun sudah berlalu, rasa kesedihan belum tersingkir masih selalu mengulik benaknya Evan. Tak jarang ia selalu bertandang ketempat di mana ibu dan ayahnya terlelap dalam tidur abadinya berselimut langit keabadian. Evan selalu datang mengajak istri dan anak, kini Farel sudah tumbuh besar dan menjadi dewasa berwajah tampan. Ketiganya sejenak larut dalam kesedihan seraya teringat kenangan manis saat masih ada ayah ibunya. "Kakek dan nenek sangat sayang sama ibu dan kamu, Farel. Tapi kenapa ya sampai saat ini justru ayah dan kamu seperti masih menjadi orang asing di keluarganya ibumu," sejenak Evan mendongak kelangit sebentar lagi datang senja.