Kesedihan, di fitnah, pergulatan batin sampai mengudang air mata, hingga menahan amarah, selalu berkorban namun selalu tetap di salahkan, tidak anggap selalu bertumpu menguntai kata-kata indah agar menembus langit di dengar pemilik semesta semua itu sudah di lakukannya. Tetap saja tangisan yang tak pernah pergi selalu mengulik batin ini, mengulik rasa kesedihan sampai mengular untuk mengutus dua bola mata agar segera turunkan rintik hujan. Terlebih telah kehilangan wakil pemilik semesta: Ayah dan Ibu, sungguh menyayat mengiris hati ini seraya rasa sakit tiada tara, tiada termaafkan atas kesalahan dan dosa setiap manusia yang telah terlahirkan dan di besarkan oleh wakil pemilik semata. Tidaklah ingin berbuat banyak dosa yang tentunya akan mengotori sekujur tubuh ini, tidak lagi ingin ada pertengkaran dengan ikatan darah yang telah terlahir dari satu rahim. Mungkin lebih baik mengalah, menjauh dari ikatan tali saudara semata-mata hanya untuk menenangkan hati yang tidak lagi selalu di derai air mata, air tangisan yang tentunya segera beranjak pergi.
Terpaksa Evan dan keluaragnya harus menjauh, meninggalkan rumah yang awalnya di impian menjadi rumah bahagia untuk hari tuanya dan masa depan anak semata wayangnya. Ia berusaha menguatkan hati walau berat dan terpaksa meninggalkan rumah, karena tidak ingin lagi mendulang tangisan yang tak pernah pergi. "Walau berat kita meninggalkan rumah, tapi hanya ini jalan terbaik bagi kita, kita bertiga," pandangan dua matanya samar berkaca-kaca menahan kesedihan melihat rumah sebentar lagi akan segera di tinggalkannya. Waktu membeli rumah itu, tidaklah sebagus saat ini, kini rumah itu sudah cukup besar karena sedikit demi sedikit di bangun dengan jerih payah, air mata dan tekad keinginan kuat untuk membangun impian bahagia.
Sebentar lagi rumah itu akan segera di tinggalkan, tidak lagi terdengar suara pertengkaran, canda tawa, keluh kesah, tangisan kesedihan dan mengenang dua wakil pemilik semesta, keduanya kini sudah bahagia di sana. "Rumah ini bukan hanya tempat tinggal untuk kita bertiga, tapi tempat di mana kita selalu mencurahkan isi hati kesedihan dan terkadang amarah yang memuncak karena sebab kecil. Andai Tuhan berkata lain dengan memberikan jalan yang berbeda, tentunya rumah ini akan selamanya menjadi tempat kita. Tapi, akan lain lagi ceritanya jika kita masih terus bertahan di rumah ini. Hanya ini, jalan kita harus mengalah dari semua saudara-saudara ayah. Ayah hanya ingin ketenangan, kenyamanan yang tidak dapat di beli dengan apapun," papar Evan tersenyum menatap anak dan istrinya sudah duduk di dalam mobil. Lalu tangannya Evan menggembok pintu gerbang, di mana hatinya masih berat untuk meninggalkan rumah itu.
***
Kini Evan dan keluarganya sudah berada jauh dari rumah tempat tinggalnya, ia sungguh berat meninggalkan rumah itu. Namun demi kenyamanan hidupnya dan kini ia juga sedang sakit-sakitan, ia dan anak istrinya tinggal di satu rumah yang tidak sebesar rumah sebelumnya yang di tempatinya. Semua itu di lakukan hanya demi cita-cita anak semata wayangnya, di mana kampus anaknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya saat ini. Begitu juga dengan tempat istrinya bekerja juga terlalu tidak jauh dari tempatnya. Walau berat memilih, namun kehidupan harus masih berjalan dan tetap harus di pilih. Masih harus berjuang walau terasa berat, namun tetap harus di lakukan hanya demi menggapai impian bahagia.