Kesedihan, pergulatan batin, menahan amarah, selalu berkorban namun tetap di salahkan, tidak di anggap namun selalu bertumpu menguntai kata-kata indah agar segera menembus langit di dengar pemilik semesta, semua itu selalu di lakukan. Tetap saja tangisan yang tak pernah pergi selalu mengulik batin ini, mengulik rasa kesedihan sampai mengular untuk mengutus dua bola mata agar segera turunkan rintik hujan. Terlebih telah kehilangan wakil pemilik semesta: Ayah dan Ibu yang saat ini sudah tiada.
Sungguh menyayat mengiris hati seraya rasa sakit terasa sungguh tiada tara, tiada termaafkan atas kesalahan dan dosa setiap manusia yang telah terlahirkan dan di besarkan oleh wakil pemilik semesta. Walau wakil pemilik semesta senantiasa selalu menguntai kata-kata dan perbuatan bersalah. Tidak, tidak pernah kedua orang tua kita berbuat kesalahan pada anaknya. Apa yang di lakukan kedua orang tua, mestinya punya alasan kenapa keduanya sampai melakukan dan perbuatan kesalahan pada anaknya.
Perjuangan ayah dan ibunya sungguh tidak dapat terbayar walau dengan segenggam emas dan segunung uang. Semarah apapun ayah dan ibu saat mendidik kita, mereka punya tujuan mulia agar kelak nantinya anaknya hidup bahagia berselimut kesuksesan. Seyogyanya tiada ungkapan kata maaf dari mulut orang tua, karena ia telah melakukan kesalahan pada anak-anaknya. Justru dosa-dosa itu selalu melekat pada anaknya yang selalu mengumbar rasa ketidak pedulian dengan jeritan hati orang tua, suara tangisannya sampai menggema mengusik pemilik semesta. Kesalahan orang tua mestinya tak lantas membuat hati setiap anak selalu di penuhi perlawanan, walau bagaimanapun ayah dan ibu tetap orang tuayang tetap kita harus hormati.
***