Cahaya jingga matahari menyelinap di celah-celah bukit hijau, menyinari sebuah desa kecil di bawahnya dengan hangat mentari senja. Beberapa penduduk desa tampak berjalan kembali ke rumah masing-masing setelah seharian beraktivitas di ladang-ladang mereka.
Seorang pria paruh baya yang masih mengenakan sepatu bot menghentikan langkahnya ketika melihat seorang gadis kecil berambut panjang hitam tengah asyik bermain sendiri di depan sebuah rumah kosong.
"Tania," panggil pria itu, "ini sudah mau malam, nak. Kau tidak kembali ke rumahmu?"
Gadis kecil itu menoleh. Mata biru keunguannya berbinar.
"Baik, Paman!" jawab Tania.
Tania kembali menoleh ke depan, ke arah teras berdebu rumah kosong yang pintunya setengah terbuka.
"Aku pulang dulu! Besok kita main lagi, ya!" ujarnya sambil berlari pergi.
Pria paruh baya yang menyaksikan itu bergidik, matanya terbelalak.
"Dia ... bicara dengan siapa?"
Seketika, seorang wanita tua menepuk pundaknya dari belakang.
"Biarkan saja dia, Tuan. Si gadis bermata indigo itu ... melihat sesuatu yang tidak bisa kita lihat!"
Pria itu menelan ludahnya.
"Maksudmu ... arwah?"
Wanita tua itu hanya tersenyum kecil sebelum berbalik meninggalkannya tanpa jawaban.
Langit pun beranjak gelap. Matahari menghilang di cakrawala, digantikan oleh bulan purnama yang perlahan beranjak naik.
"Ibu," panggil Tania yang tengah berbaring di atas ranjangnya.
"Apakah Ibu bisa keluar dan meminta anak yang berdiri di bawah pohon itu untuk diam? Sudah malam seperti ini, ia masih belum berhenti menangis!" pintanya sambil menunjuk ke luar jendela.
Sang ibu menghela napasnya lalu menarik kain gorden di jendela.
"Tidurlah, Tania," ucap ibunya pelan seraya mengecup lembut keningnya. "Kau terlalu lelah bermain hingga melantur. Tak ada seorang pun di sana. Mungkin itu hanya suara burung hantu!"
"Tapi, Bu—"
Ceklek!
Pintu kamarnya tertutup.
Tania menarik selimutnya lebih tinggi.
Ta-tapi itu kan bukan suara burung hantu ....
Tidak mungkin burung hantu bisa menangis tersedu-sedu!
Satu jam.
Dua jam.
Suara tangis itu samar-samar masih terdengar di telinga Tania meski ia sudah menutup kedua telinganya dengan bantal.