Tania The Spirit Counselor

Affry Johan
Chapter #3

Penelusuran

Di siang hari yang terik setelah jam kuliah hari itu selesai, Tania duduk di bangku kayu panjang yang berada di bawah pohon rindang. Matanya menatap air mancur di tengah halaman kampus, sementara tangannya membuka botol minumannya.

Seketika, datang seseorang yang langsung duduk di sebelahnya.

"Aku sudah melihat daftar mahasiswa lama di kantor administrasi kampus."

Tania menyelesaikan tegukannya, lalu menoleh. Di sampingnya, Lily menyenderkan punggungnya seraya menyampirkan ransel di pangkuannya.

Tangan Tania menutup kembali tutup botolnya.

"Lalu, apa hasilnya?"

"Daniel Redhill," mulai Lily, "tercatat sebagai mahasiswa baru 20 tahun lalu! Namun, tidak ada catatan kapan dia lulus!"

"Apa ada catatan tempat tinggalnya?" tanya Tania.

Lily kemudian mengeluarkan ponselnya. "Aku telah mencatat alamatnya. Dua puluh tahun lalu ia tinggal beberapa blok dari sini!"

"Ini petunjuk kita, Lily!" seru Tania.

Lily mengangguk. "Apa rencanamu, Tania?"

"Kita ke sana!"

Lily mengangguk sekali lagi, tanda persetujuannya atas usul itu.

Selang beberapa saat setelah itu, ketika matahari telah turun menuju cakrawala, Tania dan Lily tiba di depan sebuah rumah berdasarkan catatan kampus dua puluh tahun lalu. Tangan Lily mengetuk lembut pintu kayu di depannya.

TOK! TOK!

Tanpa menunggu terlalu lama, pintu itu terbuka. Seorang wanita yang telah sepuh berdiri di hadapan mereka. Ekspresi kebingungan tampak jelas di kerutan wajahnya.

"Mohon maaf, Nona. Ada perlu apa? Sejujurnya, saya tak mengenali Anda berdua."

"Nyonya Redhill?" tanya Tania.

"Benar, saya Redhill. Edith Redhill," jawab Wanita tua itu.

Tania dan Lily saling beradu pandang. Hembusan napas mereka seakan menyiratkan kelegaan.

"Ini Lily dan saya Tania. Kami dari Universitas Negeri Vermont!" lanjut Tania

"Universitas Negeri ... Vermont?" Edith membetulkan posisi kacamatanya. "Baik, silakan masuk!"

Edith mempersilakan mereka untuk duduk di sebuah sofa panjang di ruang tamu. Tanpa perlu berlama-lama, Tania menanyakannya perihal Daniel.

"Daniel," gumam Edith, "ia ... keponakanku."

Edith lalu menghela napas panjang. Matanya menerawang jauh, mencoba mengingat-ingat kembali peristiwa dua puluh tahun lalu.

"Ayah dan ibunya telah tiada sejak ia kecil. Aku yang membesarkannya sejak saat itu. Tapi—"

Edith terisak, namun kembali melanjutkan kalimatnya.

"Ia mengalami sakit ketika harus menempuh ujian akhir. Aku ingat, ia tetap semangat belajar di dalam kamarnya hingga lewat tengah malam. Ia bilang ingin segera memakai toga wisuda untuk membuat ayah ibunya tersenyum di surga."

Tania dan Lily menahan napas mendengar cerita itu.

"Namun akhirnya, sakit itu pula yang merenggut nyawanya sebelum ia sempat menjalani ujian akhir," pungkas Edith.

Lihat selengkapnya