Cahaya mentari pagi menyusup masuk dari balik tirai kaca jendela kamar asrama, memaksa Lily membuka mata dan terbangun dari lelapnya.
Ia pun membuka tirai itu. Matanya menutup sedikit akibat silaunya matahari yang telah naik lebih tinggi dari bangunan lain. Tangannya sontak segera meraih ponselnya.
"Tania!" Suaranya sedikit meninggi. "Sudah jam tujuh!"
Di kasur seberang, Tania berguling cepat lalu segera beranjak duduk di pinggir tempat tidur. "Ah, ya ... kita kelelahan hingga kesiangan seperti ini!"
Tanpa membuang waktu, dua gadis muda itu sontak segera bergegas bersiap-siap demi tidak datang terlambat mengikuti perkuliahan hari itu yang dimulai pukul delapan pagi.
Kurang dari lima belas menit sebelum kelas dimulai, Tania dan Lily akhirnya tiba di gerbang masuk kampus mereka.
"Hufh, untung saja masih sempat!" gumam Lily, napasnya tersengal-sengal. "Tidak seperti biasanya kau juga ikut kesiangan!"
"Aku tidur terlalu larut semalam," jawab Tania seraya mencoba mengatur napasnya.
"Kau terlalu fokus dengan Grimoire itu, Tania!" sambar Lily. "Lantas, apa yang kau temukan di sana?"
Tania mengusap keringat di wajahnya sebelum menjawab pertanyaan itu. "Setidaknya ... aku menemukan satu hal yang mungkin bisa kita coba!"
"Apa itu?" tanya Lily seraya mengerutkan alisnya.
"Singkatnya ... mungkin aku bisa bilang ... itu ... sihir pemanggilan!" jelas Tania.
"Si-sihir ... pemanggilan?" Lily mengulang-ngulang kata-kata itu. "Untuk apa?"
"Aku tak tahu apakah ini akan berhasil. Tapi ... kita akan coba menarik arwah Daniel ke alam nyata dan membuatnya mengerjakan ujian akhir dengan soal ujian asli!" ungkap Tania.
"Dengan sihir pemanggilan itu?" tanya Lily lagi.
"Benar." Tania mengangguk tegas.
"Apa kau yakin ... itu tidak berbahaya?" tanya Lily, ekspresi wajahnya menyiratkan kecemasan.
"Kita tidak akan pernah tahu tanpa mencobanya, Lily!" pungkas Tania seraya membuka pintu gedung perkuliahan di depannya.
Sore hari setelah jam perkuliahan selesai, Tania telah tiba di kamar asramanya lebih dulu. Di hadapannya, sebuah lembaran kertas terhampar di atas meja.
CEKLEK!
"Tania, lihat apa yang kubawa!" seru Lily antusias sembari menutup pintu.
"Toga ... wisuda?" Tania mengernyitkan dahinya.
"Benar, kupikir jika nanti kita berhasil memanggil arwah Daniel ... kita harus melepasnya dengan layak!"
Tania tersenyum kecil. "Kau berlebihan Lily. Tapi ... idemu bagus juga!"
"Hehe!" Lily terkekeh. "Lalu, kertas apa itu di depanmu?"
Mata Tania kembali menatap ke atas meja.
"Aku mengunduhnya dari bank soal di website kampus kita. Ini ... soal ujian akhir enam belas tahun lalu. Tahun di mana Daniel seharusnya lulus!"
"Wow! Senjata kita sudah lengkap sekarang!" Mata Lily berbinar ketika ia menghampiri Tania.
"Kau siap malam ini, Lily?"
Lily mengangguk tegas. "Aku siap!"
Hari pun beranjak gelap. Bulan kini bertengger tinggi tepat di atas kepala. Tania dan Lily berpakaian rapi malam ini, seolah-olah seperti dosen yang hendak pergi mengajar. Dengan ransel di punggung, mereka kembali memasuki gedung perkuliahan yang kini telah sepi.
Mereka berjalan perlahan di lorong kelas lantai satu. Tak ada suara yang terdengar kecuali langkah kaki dan napas mereka sendiri.
"Tidak ada suara meja dan kursi bergeser di sini, Tania!" bisik Lily. "Mungkin di lantai atas?"
"Ayo!" Tania segera berjalan menuju tangga spiral di tengah lorong.
Belum sepenuhnya mereka tiba di lantai dua, tiba-tiba saja terdengar suara.
GLOTAK!
Tania dan Lily menghentikan langkahnya.
"Itu dia!" bisik Tania.
Beberapa kali suara tak biasa itu terdengar, lalu disusul dengan suara derap langkah kaki.
"Hua! Tania, itu!" teriak Lily menunjuk ke depan.
"Tunggu, Lily! Itu ... itu manusia!"
"Tolong!" jerit sosok itu di gelapnya lorong kelas.