Tanjung Hana

Rico Sumitomo
Chapter #1

Musuh dalam Selimut

[TANJUNG]

Kematian bukanlah akhir, melainkan awal.

Entah mengapa kalimat khotbah dari pendeta itu terngiang lagi di dalam benakku. Aku rasa semua orang pasti tahu kematian adalah akhir dari sebuah hidup. Tapi awal apa yang akan terwujud setelah aku tertelan oleh maut?

“Kerbau.”

Sapaan teman lama membangunkanku dari lamunan. Aku bangkit dan mengatur posisi kasurnya, setelah merasa pas, kutarik kursiku lebih dekat ke ranjangnya. Kugenggam tangan kirinya erat. Sosok yang dulu kukenal kini telah tiada, runtuh tergerus oleh kelemahan, menyisakan tangan penuh keriput dan wajah yang layu. Meski begitu, masih ada sedikit sinar harapan di balik matanya yang kuyu.

“Lama sekali… tak jumpa…,” lanjutnya.

“Ya, lama tak berjumpa,” sapaku. “Bagaimana kabarmu?”

Aku pikir ia akan kesal mendengar pertanyaanku basa-basi itu. Tapi, ia memberikan respon yang berbeda, sebuah senyum kecil merekah dari pipinya.

“Baik,” jawabnya. “Aku sudah mulai terbiasa di sini, Suster di tempat ini baik sekali. Mereka selalu membantu merobekkan kalender untukku. Baik sekali….”

Suaranya tertahan, ia menatap dinding putih di hadapannya, di atas dinding itu menggantung sebuah kalender harian besar dengan angka merah tercetak di atasnya.

Aku mengikuti pandangannya, 20 Mei 1990. Pantas saja aku tadi bertemu dengan beberapa jemaat gereja di rumah sakit hari ini. Sepertinya mereka datang menjenguk Lun Bao setelah mengikuti kebaktian pagi.

“Kerbau.”

“Ya?” sahutku.

“Kemarin malam. Ada seorang gadis cilik… ia datang... menghampiriku.”

“Oh, apakah putrimu datang menjenguk, Bao?”

Ia menggelengkan kepalanya.

“Tidak. Dia bukan putriku. Aku tahu itu,” ia menatapku erat. “Aku tidak tahu siapa dia. Yang kutahu ia elok sekali. Bak malaikat berjubah putih. Ia memberi pesan kepadaku untuk mengaku dosa dan meminta maaf kepadamu."

"Dosa apa? Minta maaf untuk apa?"

Aku tidak mendapat jawaban darinya. Yang ada justru bulir-bulir air mata yang terjun membasahi pipinya.

"Oh, Tuhan," serunya. "Ampunilah dosa hambamu ini. Ampuni ...."

Ia menarik napas dalam-dalam dan mengusap air matanya dengan secarik tisu di atas nakas.

"Sudah-sudah, tak perlu dipikirkan lagi," aku menepuk pundaknya." Yang berlalu biarlah berlalu."

Lihat selengkapnya