Tanjung Hana

Rico Sumitomo
Chapter #2

Hari Pertama

2 Maret 1964

[TANJUNG]

“Kakak! Kakak!”

Aku tersentak dari lelapku. Kedua mataku mengamati ruang di sekeliling dan menarik napas lega.

Di depanku kini muncul seseorang yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Xingyuan

“Kakak kenapa? Mengigau lagi ya?”

“Mengigau?” tanyaku linglung.

“Soalnya tadi aku kaget mendengar kakak berteriak-teriak. Apa kakak bermimpi buruk lagi?”

“Ya, mimpiku tadi mengerikan sekali.“

“Apa kakak bermimpi tentang Bibi lagi?”

Aku menggelengkan kepala.

“Sudahlah Yuan. Kembalilah tidur. Besok kita harus pergi upacara sekolah, bukan?”

***

“Tanjung, Ah-Yuan! Ayo bangun! Sarapannya sudah siap!”

Seruan Bibi Guo membangunkanku dari tidur nyenyak. Aku melesat dari pangkin dan turun ke ruang makan. Bagiku, pengar di kepala tidaklah seberapa dibanding trauma akan perih dari sabetan rotan.

"Pagi Paman. Pagi Bibi"

"Pagi!"

Paman dan Bibi membalas sapaanku dengan nyaris serempak. Bibi Guo yang selesai menyiapkan sarapan mengikat rambut panjangnya dan menaruh hidangan di atas meja makan.

"Tanjung, Xingyuan masih belum bangun, ya?"

Tanjung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Bulu kuduknya meremang, kilauan mata wanita itu sekilas mengingatkannya pada harimau lapar.

"Guo Xingyuan!"

Bibi segera melangkahkan kakinya ke lantai atas. Bunyi bedebam dan lengkingan panjang menggema di saat aku menarik kursi di sebelah pria yang sedang asyik membaca koran paginya.

"Tanjung, coba kamu lihat ini."

Paman Guo menunjuk sebuah berita koran padaku. Aku membaca judulnya sambil mengunyah mantou di mulutku.

Akibat cemburu, seorang remaja sekolah malam tega membunuh pacarnya di tengah jalan raya.

Aku tersedak.

"Untung, tahun kemarin kamu bisa lulus masuk sekolah pagi, Tanjung." Paman mulai memberi nasihat. "Kalau tidak, nasibmu mungkin akan sama seperti anak di koran ini."

Aku meneguk susu keledaiku dan mengangguk-angguk. Aku tahu betul maksud Paman memperlihatkan berita itu kepadaku.

"Papa, pagi."

Aku tak kuasa meringis pada wujud adik sepupuku. Bibi memang tidak pernah kenal bulu sewaktu memberi pelajaran.

“Pagi. Kamu pasti begadang buat baca novel silat lagi, kan?” Paman menutup koran dan mengucek-ucek rambut Xingyuan. “Ayo cepat makan. Jangan sampai terlambat upacara pembukaan sekolah.”

***

“Kak! Tunggu aku!”

Aku menoleh ke belakang. Aku menekan dua rem sepedaku kuat-kuat. Sepedaku terjungkat, nyaris mempertemukan wajah pengemudinya dengan aspal.

Jantungku berdegup cepat, kenapa banyak sekali hal yang menegangkan di pagi hari ini?

"Xingyuan, cepat naik! Aku bisa dibunuh Instruktur Jun kalau terlambat hari ini."

"Xingyuan," aku memastikan bocah itu sudah duduk di kursi belakangnya. "Pegang aku erat-erat, oke?"

Xingyuan meremas pundakku kuat. Aku pun kembali mengayuh sepedanya dengan sekuat tenaga. Ia menerjang angin, menahan dinginnya angin di awal musim semi.

Akhirnya, setelah mengayuh selama setengah jam, kami berdua sampai ke sekolah. Aku mengarahkan sepeda ke area parkir dan menguncinya, Xingyuan bergerak lebih dulu menuju ke lapangan hijau.

***

Aku terengah-engah, lututku pun gemetar. Aku menelan ludahku sendiri untuk membasahi tenggorokanku yang mengering.

Di saat aku menatap jam besar yang terpajang di atas gapura sekolah. Aku sadar bahwa aku tidak punya cukup waktu lagi untuk berlari mengambil bendera di dalam kelas dan berlari lagi ke lapangan.

Lihat selengkapnya