Tanjung Hana

Rico Sumitomo
Chapter #3

Menuju Formosa

28 Februari 1964

Hana menikmati birunya langit dan laut dari balik jendela kapal. Deru mesin kapal tak mampu menyembunyikan degupan jantungnya. Kedua matanya berbinar-binar, kagum pada pemandangan indah cakrawala ini.

"Kamu baru pertama kali naik kapal, ya?"

Hana menoleh pada penumpang asing di sebelahnya. Dari kedua matanya terpantul wujud gadis dengan cheongsam hijau bercorak naga, bibirnya ranum merona merah dan kacamatanya yang hitam tebal. Sulit sekali membayangkan kalau penumpang asing ini hampir seumuran dengannya.

"Ya," jawabnya. "Kamu sendiri bagaimana? Sudah berapa kali naik kapal?"

“Tiga kali,” jawabnya santai. “Perkenalkan, namaku Citra Ong,” ia mengulurkan tangannya. “Kalau kamu?”

“Hana Xu,” jawabnya sambil menggamit tangan Citra.

“Hana Xu?” Citra melepas kacamatanya. “Jangan-jangan kamu putrinya Xu Qin-nong?”

“Ya,” kedua alis Hana terangkat. “Kamu tahu dari mana nama ayahku?”

“Siapa yang tidak tahu nama ayahmu. Dia kan seniman terkenal di seantero Nusantara. Ayahku sendiri salah satu penggemar dari lukisannya.”

Hana tersipu malu demi mendengar pujian Citra. Ia sendiri tidak tahu kalau ayahnya sepopuler itu. Salah satu karya yang pernah ia lihat hanyalah lukisan Pemimpin Agung Mao Zedong yang terpajang di dalam kamarnya.

“Tak kusangka aku bisa duduk bersebelahan denganmu," lanjut Citra. "Aku rasa ini yang namanya yuan fen. Jodoh.”

Hana tersenyum dan ikut mengamini perkataan Citra dengan anggukan. Ia tak menyangka di dalam kapal yang dipenuhi pria berkelas ini, ia bisa menemukan teman berbicara. Tak perlu waktu lama bagi mereka berdua untuk mulai berbincang lepas mengenai kehidupan masing-masing.

“Nona-nona kecil,” seorang pelayan datang menghampiri mereka. “Tolong dijaga volume bicaranya, ya. Masih ada penumpang lain yang sedang beristirahat. Terima kasih.”

Kedua gadis itu segera mengangguk-angguk pada pelayan dan mengecilkan suara mereka.

“Hei, Hana,” bisiknya. “Aku bisa membaca garis tangan, loh. Apa kau mau mencoba?”

Hana ragu-ragu sejenak.

“Baiklah,” ujarnya sambil mengulurkan tangan kanannya pada Citra.

Citra mengamati dengan saksama guratan-guratan di atas telapak tangan Hana. Raut wajahnya mengeras.

“Hana, apa kau pernah dikhianati oleh seseorang?” ucapnya perlahan.

Pertanyaan itu menusuk ke dalam jantungnya.

"Ba … bagaimana kamu bisa tahu tentang hal itu?"

"Lihat di sini," ia menunjuk pada garis tangan yang menggambarkan asmara. "Terputus di tengah jalan."

Kedua mata Hana berkaca-kaca. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi menangis demi pria itu. Namun ia tetap saja gagal. Tanpa sadar, ia telah berada dalam pelukan gadis di sebelahnya dan mulai menangis terisak-isak.

"Sudah, sudah," Citra menepuk-nepuk punggung teman seperjalanannya.

"Maafkan aku," ujarnya tersedu-sedu. "Aku … aku masih belum bisa.”

Lihat selengkapnya