Tanjung Hana

Rico Sumitomo
Chapter #4

Murid Baru

"Mama, kenapa kita ada di pantai?"

Anak lelaki itu menatap ibunya lekat. Dari sepasang bola matanya, terlukis sosok wanita yang membawanya ke dunia ini. Rambut hitamnya yang menari bersama alunan angin. Parasnya elok, menyamai kembang waru landak di pagi hari.

"Sudah waktunya kita pulang, Nak. Di seberang lautan ini rumah menunggu kita."

Mata anak itu mengikuti arah telunjuk ibunya. Di sana, hamparan lautan dan gumpalan awan tebal menyambutnya dengan gemuruh ombak dan halilintar.

Ia gemetar. Bukan hanya pada pemandangan di hadapannya, namun juga pada langkah ibunya yang menantang bahaya.

"Mama, aku takut! Aku takut!"

Anak lelaki itu termenung sewaktu menemui pandangan kosong ibunya. Di saat itu, otak kecilnya menyadari bahwa nyawanya akan tamat di tangan wanita ini.

"Dan, aku dan Tanjung akan segera datang menemuimu. Sebentar lagi kita akan berkumpul bersama untuk selama-lamanya."

Anak lelaki itu meronta-ronta dari cengkraman ibunya. Namun usaha kecilnya itu berakhir sia-sia saat ombak besar mengangakan mulutnya dan menelan mereka bulat-bulat.

***

3 Maret 1964

[TANJUNG]

"Mama!"

Aku tersentak. Nyeri yang menusuk di dalam dada nyaris saja melumpuhkanku. Ingatan itu kembali menghantuiku dalam mimpi. Aku menelan ludah, mengatur napas perlahan-lahan. Aku baru bisa mengusap keringat dingin yang membasahi dahi setelah ngilu ini mereda.

Aku termenung sejenak di atas kasurku. Dua mimpi buruk selama dua hari berturut-turut. Apa yang salah dengan diriku akhir-akhir ini?

Langit di balik jendela yang masih dinaungi kegelapan. Aku meregangkan tubuhku dan bangkit meninggalkan tempat tidur.

"Ah, Tanjung, kau sudah bangun rupanya."

Aku mengangguk, sempat tertegun pada kehadiran Paman Guo dari anak tangga. Lewat goresan keriput di dahi dan pipinya, juga pantulan cahaya dari kepalanya yang hampir botak aku menyadari kekejaman waktu pada sosok pria yang mengambil peran ayah dalam hidupnya.

"Sini, bantu aku melipat kertas-kertas sembahyang ini."

Aku duduk di samping Paman Guo dan mengambil beberapa lembar kertas sembahyang di atas meja. Sambil melipat kertas, benakku kembali menjelajah mimpi mengenai masa kecilnya. Masih banyak misteri menggelayut dari mimpi yang selalu datang menghantuinya setiap tahun.

"Tanjung."

"Ya?" ucapku agak linglung.

"Kertas lipatnya sudah cukup. Biar Paman yang bereskan sisa kertas di meja ini. Kembalilah beristirahat di dalam kamarmu."

Paman Guo menaruh semua kertas yang terlipat ke dalam kantung plastik, dan memasukkannya ke dalam keranjang.

"Paman." Aku berdiri di dekat anak tangga, memilin ujung bajuku. "Apa aku boleh ikut pergi bersembahyang?"

Paman Guo terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengangguk pada permintaanku.

"Cepat ambil jaket dan sweter-mu. Kita harus sampai di pantai sebelum matahari terbit."

Lihat selengkapnya