Tanjung Hana

Rico Sumitomo
Chapter #5

Sekolah Pagi

Pokok kolom berita suatu surat kabar harian pada hari Senin, 21 Mei 1990:

“Direktur Tanjung dari PT Pangan Formosa ditemukan tergeletak di depan RS Veteran pada hari Minggu(20/5/1990). Penyebab kejadian diduga akibat serangan jantung mendadak. Sampai saat ini, kondisi beliau masih dalam keadaan kritis”

***

[LUN BAO]

“Baiklah anak-anak, buka halaman 32!”

Aku membuka buku pelajaran ke halaman yang disebut. Di sisi kanan bawah halaman ada potret Konfusius yang kuberi kacamata hitam dan tahi lalat di bawah bibirnya.

"Jadi anak-anak, Konfusius lahir di Negara Lu pada zaman Chunqiu…"

Suara Bu Lian buyar saat aku menengok Alan dan Tanjung yang sedang membaca buku paket bersama. Anganku kembali lagi pada percakapan terakhir di dalam mobil dua hari yang lalu.

"Aku tidak peduli dengan apa yang akan kalian lakukan dengan buku itu. Tapi tolong jangan sampai konspirasi kalian sampai di telinga orangtua dan sahabatku."

"Tenang saja, Lun Bao," ujar Paman Wong. "Semua hal yang terjadi di dalam mobil ini hanyalah rahasia kita bertiga."

"Untukmu Alan, ada satu hal lagi yang ingin kusampaikan padamu," ucapku. "Jangan sampai ada orang yang tahu tentang hubungan kita di sekolah."

"Siap Rambo! Eh, maksudku Lun Bao." Ia tergelak. "Sepertinya aku harus banyak latihan di rumah nanti. Lun Bao, Lun Bao, Lun Bao."

"Lun Bao, Lun Bao!"

“Ya, Bu?” tanyaku, agak terkejut.

“Coba kamu berdiri dan bacakan puisi yang ada di buku paket.”

Aku berdiri dengan gugup, menengok ke sekeliling. Lewat isyarat tangan dari Tanjung aku membuka buku pelajaranku ke halaman 36.

"Zi yue …," Eh, apa ejaan aksara setelah ini? "Zi yue …."

Aku bergeming demi mendengar tepukan keras Ibu Lian di atas meja. Jantungku berdebar keras. Aku tak sanggup bertatapan mata dengan guru di hadapanku ini.

"Angkat kursimu seinggi-tingginya, Lun Bao," ucapnya dingin. "Sekarang."

Aku mematuhi perintah Bu Lian. Tidak kusangka guru Sastra Mandarin di sekolah pagi bisa segalak ini. 

Aku mengedarkan pandangan pada murid-murid di sekitarku. Semuanya nampak serius mendengar penjelasan Bu Lian dan mencatat tiap goresan di papan tulis. Ah, rindu sekali aku pada sekolah malam, terutama pada Pak Aming, wali kelas dengan pembawaan kocak dan santai.

Aku menarik napas panjang. Aku tak bisa kembali ke dunia itu lagi. Cuma ini satu-satunya cara agar aku bisa membuat ayahku bangga, agar aku bisa lepas dari cengkraman geng Sichuan.

***

Bel jam pelajaran akhirnya berbunyi. Aku menaruh kursi yang kuangkat tadi kembali ke tempatnya dan meregangkan otot lenganku yang pegal. Aku keluar dari kelas dan memanfaatkan waktu istirahat yang cuma sepuluh menit ini untuk pergi ke toilet. Pemandangan yang memuakkan hadir di hadapanku. Anak-anak sekolah pagi itu mengerumungi Alan dan melemparinya dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh.

“Dengar-dengar kamu keponakannya Paman Wang, ya?”

Lihat selengkapnya