Tanjung Hana

Rico Sumitomo
Chapter #8

Kegalauan Tanjung

Dear Citra,

Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini? Aku baik-baik saja di sini. Semoga kamu tetap sehat walafiat selama di Los Angeles. Ini hari keduaku masuk di SMA Tamkang. Besok kami akan mengadakan pemilihan klub. Aku harap aku bisa masuk ke klub vokal, atau setidaknya klub teater.

Mengenai ramalan tangan yang kau baca waktu itu. Aku jadi sedikit kaget sekarang. Karena di hari pertamaku, aku justru berjumpa dengan orang yang mirip sekali rupanya dengan mantan kekasihku. Meskipun tingkah lagunya lugu dan polos, namun aku tetap saja tak bisa melepas ingatanku dari mantan kekasih sewaktu menatap dirinya. Mungkin ini yang kau maksud dengan kesempatan kedua. Mungkin ini sudah menjadi ketentuan bagiku untuk menjalin asmara baru dengannya. Aku tidak tahu. Saat ini aku hanya bisa menjaga hubungan dengannya sebagai teman.

Itu saja unek-unekku selama berada di sini. Aku juga ingin segera tahu bagaimana kabarmu di sana.

Peluk dan cium.

Hana

4 April 1964, Tamsui, Taiwan.


 [TANJUNG]

Apa ini yang namanya cinta pada pandangan pertama?

Kedatangan Hana membuat pertanyaan itu seringkali mencuat di dalam benakku. Entah di saat aku terbaring dalam larutnya malam, di saat mengunyah mantou, atau di saat aku mengayuh sepeda menuju ke sekolah.

"Awas, Kak!"

Tubuh kami menjorok ke depan saat aku menekan kedua rem sepedaku dengan kuat. Hampir saja aku dan Xingyuan tertabrak oleh tukang angkong di persimpangan jalan.

"Kakak kok melamun terus, sih? Bahaya tahu," ucapnya sambil memukul pundakku.

"Maaf, maaf. Aku sedang memikirkan sesuatu tadi."

Aku kembali menggowes sepedaku, sepuluh menit kemudian kami pun sampai di gerbang sekolah.

Bel pelajaran pertama berbunyi tepat di saat aku menginjakkan kaki di ambang pintu kelas. Di sana sudah ada Hana yang duduk di kursinya. Meski rambut panjangnya kini telah digunting menjadi pendek sebahu, ia tetap terlihat cantik dengan kedua iris matanya yang emas kecoklatan.

“Selamat pagi.”

“Selamat pagi.”

Jantungku kembali berdebar-debar saat berada di sisinya. Perasaan bahagia dan canggung bercampur menjadi satu di dalam diriku.

Sadarlah, Tanjung. Sadar.

Aku berkali-kali menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Detak jantungku kembali normal. Aku harus fokus pada pelajaran Pak Sima kali ini.

Lihat selengkapnya