Tanjung Hana

Rico Sumitomo
Chapter #9

Guru Les Privat

21 Maret 1965

Hana berjalan menuju sebuah kedai, di tangannya saat ini tergenggam secarik kertas berwarna kuning yang baru saja diambilnya dari tiang listrik. Di dalam kertas itu tertulis:

DICARI

GURU LES PRIVAT BAHASA INGGRIS

SILAKAN DATANG KE KEDAI MI SAPI GUO DAFA BILA BERMINAT

Ia bergeming di depan kedai yang dimaksud. Setelah menarik napas panjang selama tiga kali, ia pun memberanikan diri untuk masuk ke dalam kedai.

“Selamat datang, ada yang bisa dibantu?” ujar lelaki paruh baya begitu mendengar bel di pintunya berdering.

Pria paruh baya itu tertegun sewaktu bertatapan dengan Hana. Wajahnya memucat seolah baru saja melihat hantu. Ia kembali tersadar sewaktu gadis di hadapannya menunjukkan kertas kuning itu kepadanya.

“Se … sebentar,” ujar pria itu. Ia berjalan meninggalkan kedai. “Biar aku panggil dulu istriku.”

Beberapa menit kemudian, pria itu kembali dengan seorang wanita yang agak gempal dan mengenakan daster bermotif bunga.

“Apa kau datang kemari untuk melamar pekerjaan guru privat?” tanya wanita itu.

Hana mengangguk, “Saya ingin mencari pekerjaan sampingan untuk menambah uang jajan,” jawabnya.

Wanita itu mempersilakan Hana untuk duduk bersamanya.

“Bibi boleh tanya siapa namamu, Nak?”

“Hana Xu, Bi.”

“Kamu sekolah di mana? Kelas berapa?”

“Saya sekolah pagi di SMA Cuiyu, kelas satu ren.”

“Hm,” Wanita itu menelengkan kepalanya. “Apa kamu sekelas dengan Tanjung?”

“Ya, Bibi,” jawabnya. “Bibi tahu dari mana?”

Wanita itu tertawa, “Tanjung itu keponakan saya. Kamu pasti murid baru yang datang dari Malay…, eh… Indonesia, bukan?”

“Ya, Bibi.”

“Ah, kalau memang begitu, Bibi tidak perlu ragu lagi,” Ia menepuk pundak Hana. “Kamu saya terima jadi guru les privat anak saya, Xingyuan.”

“Hah?” Hana terkejut. “Saya diterima? Apa tidak perlu tes dulu, Bi?”

Bù bì,” ujarnya. “Aku sudah mendengar dari Tanjung kalau bahasa Inggrismu bagus. Itu sudah cukup buat Bibi.”

“Wah, terima kasih, Bibi,” Ia menunduk, “Terima kasih.”

“Sama-sama,” Wanita itu tersenyum. “Kamu bisa mulai bekerja selasa nanti, sekalian makan malam bersama kami, bagaimana?”

“Siap, Bi,” ujar Hana. “Saya tidak akan membuat Bibi kecewa.”

***

22 Maret 1965

[TANJUNG]

“Argh!”

Aku mengacak-acak rambut tipis di kepalaku. Kenapa bayangannya tidak mau hilang dari dalam otakku? Semakin aku mengenal dirinya, semakin berat gejala-gejala ini menimpaku. Aku merasa tersiksa, hidupku seolah berubah semenjak kedatangan dirinya. Ingin rasanya aku absen sehari saja dari sekolah untuk meringankan semua perasaan yang berkecamuk di dalam dada ini.

Lihat selengkapnya