23 Mei 1990
“Hola, mi amigo.”
Lun Bao menoleh ke kanan, di sana tertampak sosok pria berkusi roda. Ia tersenyum saat pandangan keduanya bertemu.
“Alim,” Ia memalingkan tubuhnya dengan perlahan. “Sudah berapa lama kau berada di sini?”
Alim mengecek jam di lengannya, “Satu jam lebih,” ucapnya, “Aku tidak ingin mengganggu waktu tidurmu.”
“Kau sama sekali tidak berubah, ya,” Lun Bao tersenyum. “Tingkahmu selalu membuatku merinding.”
Alim terkekeh.
"Kau juga masih sama seperti dulu, mi amigo. Perkataanmu selalu membuatku tertawa."
Keduanya tertawa sebelum senyap menggelayuti dua insan itu. Tidak mudah bagi mereka untuk memulai topik percakapan setelah berpisah selama lebih dari dua dekade.
"Apa kau dengar berita akhir-akhir ini?" tanya Alim membuka topik baru.
"Berita tentang apa?"
"Tentang Tanjung," ujarnya. "Ia terkena serangan jantung. Sekarang masih dalam keadaan koma."
Lun Bao tercenung, angannya ambyar.
“Ini semua salahku,” ucapnya perlahan. “Aku telah menipu sahabatku sendiri selama ini.”
Di saat ia merenungkan kesalahannya, air mata kembali mengalir membasahi pipinya.
Alim mendekatkan kursi rodanya ke ranjang Lun Bao.
“Kita sudah melakukan hal yang perlu kita lakukan, Lun Bao. Kau tahu sendiri, cepat atau lambat ia akan tahu rahasia Hana.”
Lun Bao mengangguk-angguk. Ia menatap langit-langit, berusaha untuk menghentikan air matanya.
“Ia percaya kepadaku, Alim,” ujarnya, “tapi aku justru memperlakukan kepercayaannya itu layaknya sampah.”
"Ya, aku tahu itu. Aku juga masih menyesali perbuatanku puluhan tahun lalu. Kalau saja aku bisa kembali lagi ke masa itu. Mungkin semua hal ini tidak akan pernah terjadi."
"Kau keliru Alim. Semua ini tak akan berubah meski kau kembali lagi ke masa itu."
"Ya, kau benar," Alim termenung sejenak. "Semua peristiwa ini seolah sudah ditetapkan sebelum dunia ini dijadikan."
Lun Bao mengusap air matanya dan tersenyum. Entah mengapa perkataan temannya itu membuatnya jadi sedikit lebih lega.
"Alim, kau tidak cuma datang kemari untuk membuatku menangis termehek-mehek bukan?"
"Sayangnya tidak," ia tersenyum pahit. "Sesungguhnya, aku datang kemari atas perintah Acun. Ia ingin malam ini jadi malam terakhirmu, mi amigo."
***
20 Maret 1964 Pukul 17.00
[LUN BAO]