Tanjung Hana

Rico Sumitomo
Chapter #11

Jebakan Tikus

26 Maret 1964

[LUN BAO]

Di bawah naungan atap punjung, ia menatap wajahku dalam-dalam. Sesekali kedua telapak tangannya mengepal. Ia berusaha untuk menenangkan dirinya dengan menarik napas dalam-dalam.

“Su—sudah lama aku menaruh perasaan padamu. Ma—maukah… kamu menjadi pacarku?”

Aku menggelengkan kepala, sambil mengelus-elus dagu aku berkata, “Hm… gimana ya? Perasaanmu masih kurang keluar, Jung. Masih terlihat kaku.”

Tanjung menghela napas. Jari-jarinya tanpa sadar menggaruk-garuk rambut di atas tengkuk.

“Sepertinya aku memang belum siap, Bao.”

Sebelah alisku terangkat ke atas. “Mau sampai kapan kamu baru bisa siap?”

Ia tidak bisa menjawab. Sudah hampir tiga hari kami berkumpul secara sembunyi-sembunyi seperti ini di sudut sekolah, berlatih bagaimana cara mengungkapkan perasaan suka untuk pertama kalinya.

“Apa kamu nggak takut dia direbut orang lain nanti?” aku bertanya lagi. “Apa kau tidak tahu ada orang yang mengirim surat cinta kepadanya?”

"Hah? Siapa?"

Siapa lagi kalau bukan Acun si gila itu.

"Aku tak bisa bilang siapa pengirim rahasia itu. Yang jelas, kau saat ini dalam kondisi yang berbahaya, Kawan.”

"Aku tak tahu apa yang harus kulakukan," ia menundukkan kepalanya. "Aku takut ditolak."

Bel masuk berbunyi sebelum aku sempat berceloteh lagi. Aku meremas pundak kawanku ini dan tersenyum padanya.

"Kau tak akan pernah tahu sebelum kau mencoba, Kerbau."

***

3 April 1964

[TANJUNG]

Aku menaruh semangkuk mi sapi di hadapan Lun Bao. “Ini pesananmu, satu mangkuk besar mi sapi dengan ekstra potongan daging.”

Mata Lun Bao kembali berbinar. “Wah! Terima kasih, Kerbau.”

Ia segera menggeser mangkuk itu ke dekatnya. Ditambahkannya sedikit lada dan minyak cabe, lalu diaduk-aduknya mi itu dengan sumpitnya.

Lihat selengkapnya