Tanjung Hana

Rico Sumitomo
Chapter #12

Serenade Pulau Hijau

24 Mei 1990

Kak Tanjung, aku mohon… bangunlah….

Pria itu meremas tangan kakak sepupunya sekali lagi. Mencoba untuk memberikan kehangatan pada telapak tangan yang telah lama dingin. Berharap keajaiban akan membawa saudaranya kembali lagi ke dunia nyata.

Ia memperhatikan wajah saudaranya. Tampak pucat dengan bibir yang menyisakan retak. Sudah hampir sebulan alat bantu pernapasan itu menancap di lubang hidungnya, dan selama itu pulalah ia menunggu dengan penuh kesabaran.

Melodi lawas memenuhi ruang rawat inap kelas satu itu. Ia tahu kakak sepupunya sangat menggemari lagu-lagu lama. Maka dari itu, setelah mendapat persetujuan dari dokter, ia menaruh radio di dalam kamar ini. Ia yakin nada-nada dari masa lalu itu bisa memberikan stimulasi bagi jiwa kakak sepupunya yang terkurung dalam lelap. Namun, nampaknya efek yang ia harapkan masih sebatas angan belaka.

“103.2 FM Radio Formosa, radionya pulau permata,” sapa sang penyiar di udara. “Selamat malam para pendengar sekalian, selamat datang kembali di acara Gelombang Nostalgia, bersama saya DJ Rami yang akan setia menemani Anda di udara hingga pukul sepuluh malam nanti. Di sesi ketiga kali ini, saya akan kembali membacakan beberapa pesan singkat yang telah masuk ke dalam ruang siar kami. Ehmm… kita mulai dari satu pesan singkat yang dikirim oleh seorang pendengar setia kita di Yi-lan, sayang sekali tidak mencantumkan nama, ya. Ehmm…

“‘Selamat malam dan salam nostalgia. Saya ingin memesan lagu Serenade Pulau Hijau... titip pesan untuk dia yang pernah membawakan lagu ini dengan penuh cinta.’ Wah, romantis sekali pendengar kita yang satu ini. Apakah ‘dia’ sedang berada di samping Anda sekarang?”

Penyiar itu tertawa, lalu terdiam dan beralih membacakan pesan-pesan singkat lainnya.

“Baiklah para pendengar sekalian,” Ia menyudahi monolognya. “Bagi Anda yang juga ingin memesan lagu sambil mengirim pesan kepada sahabat-sahabat Anda maupun orang tercinta. Silakan kirimkan pesan singkat Anda di 0809-8999-9XX. Jangan lupa cantumkan nama, alamat, dan lagu yang Anda inginkan, serta titip salam Anda tentunya. Tetaplah setia di Gelombang Nostalgia, tempat kita, memadu cerita lama. Saya akan segera kembali setelah beberapa lagu berikut ini.”

Hening sejenak. Lalu, irama musik pembawa rindu kembali menari-nari di udara. Diikuti suara penyanyi yang melantunkan tiap syair dengan merdunya.

Biarlah nyanyianku terbang bersama embusan angin, menyingkap tirai jendelamu…

“Kak Tanjung!”

Cipto terperanjat dari kursinya. Sebuah mukjizat datang tanpa diduga. Kegembiraan yang tak terhingga seketika meluap memenuhi jiwanya. Dengan segera ia menerobos pintu dan berlari keluar, dicari-carinya tenaga medis yang bisa ditemuinya.

“Dokter! Dokter!”

Ia segera berlari dan mencengkeram bahu sang dokter ketika melihat dokter yang ia panggil datang mendekat.

Bahu dokter itu terguncang. “A, ada apa, Pak?”

Lihat selengkapnya