Tanjung Hana

Rico Sumitomo
Chapter #13

Dongeng dari Pulau Jawa

Pada suatu hari, di pinggiran kota Surabaya, hiduplah sebatang pohon besar di tepian sungai. Sudah hampir puluhan tahun ia berdiri di tempat ini. Ia sudah menjadi rumah bagi para burung dan serangga, serta saksi bisu dari romansa para muda-mudi yang sedang dimabuk cinta.

Dari banyaknya luka yang membekas di tubuhnya, ada satu yang tak bisa ia lupa. Dua buah nama yang pertama kali menggores di tubuhnya. Sebuah kisah cinta yang berakhir dengan derita.

Pada pertengahan musim kemarau, waktu ia baru berusia sepuluh tahun. Saat itu ada sepasang muda-mudi datang dan duduk di atas akarnya. Ia bisa merasakan perasaan yang menggebu-gebu ketika mereka bermesraan dalam naungan dahannya. Pemuda itu nampak bahagia ketika merangkul kekasihnya. Begitu juga dengan sang gadis, ia merasa nyaman berada dalam dekapan dada sang pemuda.

“Hah, andai saja waktu bisa berhenti pada momen ini, Mas,” ujar gadis itu. “Andai kita bisa menjelma jadi sepasang burung yang bersarang di atas dahan. Tanpa perlu khawatir dengan bisingnya dunia luar...”

“Wow,” pemuda itu memotong pembicaraanya. “Sejak kapan gaya bicaramu berubah jadi puitis begini?”

“Enggak tahu juga ya, Mas. Sejak hatiku dicolong anak kampung sebelah, mungkin?”

Mereka berdua tertawa. Itulah pertama kalinya sang pohon bertemu dengan pasangan itu. Waktu itu, ia tidak begitu peduli dengan keberadaan mereka. Baginya, dua orang ini tidak lebih dari sekedar pejalan kaki biasa, yang kebetulan lelah, dan beristirahat di bawah dedaunnya yang rindang.

Namun, lama-kelamaan pohon itu mulai menaruh perhatian pada kedua sejoli ini. Ada sesuatu yang menarik tiap kali mereka duduk dan berteduh di sampingnya. Dan sejauh ini, ia sudah tahu bahwa gadis kecil itu adalah putri tunggal dari keluarga Xu, dan pemuda dari tetangga kampungnya Rizal, adalah putra sulung dari tiga bersaudara. Dan tampaknya sang pohon sudah tahu, kenapa mereka selalu memilih tempat ini untuk berkencan.

“Kita tidak bisa terus menjalani hubungan seperti ini, Sayang.” ujar Rizal saat mereka bertemu kembali. “Bulan depan aku akan menemui ayahmu dan menyampaikan niatku padanya.”

“Kenapa, Mas?” tanya sang gadis. “Mas Rizal tahu sendiri kan bagaimana kolotnya Papa. Aku khawatir ia akan murka kalau sampai tahu akan hubungan kita. Papa bisa saja memanggil polisi dan menjebloskanmu ke dalam penjara, Mas.”

“Aku tidak peduli!” Rizal menggengam kedua tangan gadis itu, “kalau aku harus dipenjara karena mencintaimu… aku rela.”

Gadis itu memeluk kekasihnya, “Aku juga mencintaimu, Mas…,” air mata mulai membasahi pipinya, “dan aku tidak sampai hati melihatmu menderita karenaku.”

Rizal menepuk-nepuk pundaknya. “Sudah, sudah. Tidak perlu menangis, Sayang. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Lagipula, kita tidak bisa terus menerus bersembunyi seperti ini, bukan.”

Gadis itu mengangguk-angguk dan mengusap air mata di pipinya. Sebelum mereka berpisah, pemuda itu memungut sebongkah batu yang berujung lancip, ia mulai menggores sesuatu ke atas batang pohon itu.

Pohon besar itu meringis, ia tak habis pikir apa yang ada pemuda ini inginkan dengan melukai dirinya.

“Kamu mau bikin apa, Mas?”

“Ah ini,” ia menggores kulit pohon itu lebih dalam lagi. “Aku sedang mengukir nama kita berdua di sini. Nantinya, pohon inilah yang akan jadi saksi kisah cinta kita berdua, Sayang”

“Enggak sampai kayak begini juga kali!” gerutu sang pohon dalam hati.

Tiga bulan telah berlalu sejak peristiwa itu, dan amarah sang pohon belum juga reda. Ia masih kesal dengan tingkah laku pemuda yang telah melukai tubuhnya dengan semena-mena. Dilihatnya sekali lagi bekas luka yang telah menembus kulit batangnya. Ia mendesah pasrah, tidak banyak hal yang bisa ia lakukan untuk menegur para manusia yang tak mengerti bahasanya.

Tapi dipikir-pikir, sejak saat itu pulalah dua sejoli itu mulai menghilang dari jarak pandangannya. Apakah ada sesuatu yang menimpa mereka berdua?

“Panjang umur,” gumam pohon besar itu ketika melihat gadis dari keluarga Xu berjalan ke arahnya. Tapi, kenapa ia cuma datang sendirian? Ke mana pemuda kurang ajar itu?

Lihat selengkapnya