5 April 1964
[LUN BAO]
"Kalian berdua berciuman?"
Alan menatapku sinis saat aku mengutarakan pertanyaan itu.
"Aku sudah mengira kau akan mengamatiku dari kejauhan."
"Aku dan Acun, tepatnya," jelasku sambil menyantap sesendok es serut mangga. "Selamat, kau kini bebas dari lelaki sinting itu. Aktingmu kemarin benar-benar meyakinkan."
"Ya, akhirnya."
"Oh, tidak."
"Apa?"
"Pipimu merona. Kau juga suka dengan Tanjung rupanya."
"Jangan bercanda, aku tak mungkin jatuh hati dengannya. Cuma ..."
"Cuma?"
"Ia mengingatkanku akan Rizal."
"Dan kau masih belum bisa melupakan pria brengsek itu?"
"Bagaimana bisa aku melupakannya, sementara kau ingin aku pura-pura berpacaran dengan doppelganger-nya?"
"Oh, jadi semua ini salahku? Maaf saja kalau ideku ini kurang cukup untuk menghentikan teror dari Acun."
"Sudahlah," ia mengangkat tangan. "Aku tidak ingin bertengkar denganmu sekarang. Aku harus pergi menyiapkan bahan pelajaran untuk Xingyuan besok lusa."
Alan bangkit dan berjalan keluar kedai, meninggalkanku bersama dua mangkuk es serut yang mulai meleleh.
**
[TANJUNG]
Abu pembakaran kertas sembahyang membubung tinggi ke udara. Di hari Cheng Beng ini, aku dan Paman Guo berziarah ke makam Ibu yang berada di gunung Yang Ming. Bibi dan Xingyuan tidak ikut karena mereka pergi berziarah ke makam Kakek Xingyuan yang berada di Tao Yuan.
Api kembali membesar ketika aku melempar segepok kertas sembahyang ke dalamnya. Paman Guo masih mencabut sisa rumput ilalang yang tumbuh di atas tanah makam Mama dan menyapunya ke samping. Aku bersujud di depan kuil kecil milik dewa tanah dan menancapkan setangkai dupa di atas altarnya, asap dari dupa itu mengeluarkan bau harum yang meliuk-liuk di udara. Aku mengakhiri doaku kepada dewa tanah dengan merapatkan kedua tapak tanganku dan menempelkannya di atas dada.
“Tanjung, cepat habiskan kertas sembahyang yang belum dibakar. Jam dua siang kita harus sampai ke kuil.”
Aku mengangguk dan membakar sisa kertas sembahyang, tong pembakaran yang berasap-asap membuatku terbatuk-batuk untuk yang kesekian kalinya.
Matahari berada di atas kepala ketika kami berjalan menuruni gunung. Paman Guo menunggangi kuda besinya, sementara aku membonceng sambil menyeruput sekantong es teh kundur segar (yang baru saja kubeli dari kedai Bibi Liao).
Setelah perjalanan selama satu jam, kami pun tiba di kuil yang letaknya dekat dengan pantai Sha Lun. Kuil ini dibangun dari dana bersama dan baru saja selesai setahun lalu. Di sini, aku melihat banyak orang di lingkunganku bersembahyang. Kuil ini merupakan salah satu penghubung antara kami dengan para leluhur. Di sinilah tempat kami meletakkan persembahan untuk orang-orang yang telah mendahului kami dari generasi ke generasi. Aroma wewangian yang menyerbak di dalam kuil ini mengantarkan pesan-pesan kami kepada mereka, para arwah yang bersemayam di alam baka.
Hari sudah mulai sore ketika upacara di kuil telah usai. Paman Guo pulang ke rumah lebih dulu, sedangkan aku menyempatkan diri untuk menyusuri hamparan pasir di pantai Sha Lun. Pantai di mana aku mulai membuka mata dan memotret memori pertamaku.
Ada getaran yang aneh di dalam dada setiap kali mengunjungi pantai ini. Semacam getir yang tak terucapkan ketika bayangan Mama kembali dalam benakku.
Di tengah debaran ombak yang menyapu jejak-jejak kaki ini, aku melihat sesosok gadis berjubah putih mematung memandangi lautan, hembusan angin semilir membelai rambut hitamnya dengan lembut.
“Apa kau sering berkunjung ke pantai ini?”
Aku terdiam sesaat, lalu menjawab, “Hanya sesekali, untuk mengenang mendiang ibuku.”
Tatapannya melembut, “Apa kau bahagia bertemu dengan gadis yang mirip dengan ibumu?”
“Ya,” jawabku singkat. "Kamu siapa?"
Kedua matanya kembali menatapi lautan yang terbentang luas. Matahari perlahan bergerak menuruni cakrawala, menyisakan kilauan senja keunguan.
"Lun Bao meninggal malam ini."