Dear Hana,
Maaf aku baru bisa membalas suratmu saat ini. Aku senang mengetahui kalau kau mulai terbiasa di Taiwan. Aku sendiri masih kurang kerasan dengan LA, banyak orang yang memandangku dengan pandangan aneh di tempat ini. Di sini aku cuma bisa berteman dengan Roberta, gadis dari Jerman. Meski ia agak aneh dan suka berkhayal tentang fiktifnya realita dunia ini, tapi dia orang yang baik, aku harap kau bisa berkenalan dengannya lain waktu.
Oh, ya, soal ramalanku di pesawat dulu, jangan diambil terlalu serius, anggap saja itu permainan kanak-kanak.
Peluk dan cium
Citra
Los Angeles, 30 Mei 1964
**
Segerombolan anggota tim geng Shanghai berkumpul di bawah pohon beringin. Di sini, mereka bisa dengan nyaman merokok tanpa dipergoki oleh instruktur Jun.
"Aneh, Bos Acun tidak datang ke sekolah malam ini. Kenapa dia?" tanya salah satu anggota.
"Dengar-dengar sih sakit hati gara-gara gadis yang dia sukai ternyata sudah punya pacar," ujar yang lain. "Kalau tak salah, dia anak baru di sekolah pagi. Hana, namanya."
"Hana… Hana…," salah seorang anggota mengelus-elus dagunya. "Apa dia sekelas dengan Lun Bao dan Tanjung?"
"Ya, mereka di kelas Ren. Kenapa kau bisa tahu?"
"Wah, Si Bos kena tipu rupanya," ia meninju kepal. "Kalian tahu kan kalau aku punya kerja sambilan di kedai es. Jadi, waktu itu Hana dan Lun Bao…"
"Hei, kalian sedang berbicara tentang apa? Sepertinya asyik sekali."
Semua orang membuang puntung rokok mereka dan memberi hormat pada remaja berbadan tinggi yang datang menghampiri mereka.