Tanjung Hana

Rico Sumitomo
Chapter #16

Audisi

1 Juni 1990

Citra dan Alim bersantai di taman rumah duka. Selama belasan menit keduanya membisu, hanya sesekali kebulan asap tembakau keluar dari mulut mereka.

“Jadi, mengenai Lun Bao,” Citra memecah keheningan. “Seberapa dekat kau dengannya?”

"Sahabat sejati," ujar Alim, "lebih akrab dari saudara."

“Maaf,” ucap Citra pelan.

“Tidak perlu.”

“Kau tidak mengerti. Akulah yang menyarankan perintah ini pada Tuan Huang. Suamiku memberitahu kalau kesadaran Tanjung mulai pulih. Aku panik.”

“Sudahlah,” Alim membuang puntung rokoknya. “Kau hanya melakukan hal yang kau perlu lakukan, dan aku hanya menjalankan perintah. Sekarang masalah kita cuma satu. Kapan kau akan menyelesaikan tugasmu? Bukankah akan lebih mudah jika kau melakukannya sekarang?”

“Aku tahu. Tuan Huang juga menanyakan hal yang sama denganmu. Kalau tidak kenapa aku sampai susah-susah mengganti obat jantungnya dengan pil plasebo? Aku hanya tak ingin gegabah dalam hal ini. Terutama usai aku menemukan Hana sebulan lalu."

"Hana Xu? Dia ada di sini?"

"Ya, sudah hampir lima tahun ia tinggal di sini. Kami berbincang sedikit di kantin rumah sakit dan aku memberinya tawaran untuk melaksanakan tugas ini."

"Kau tahu hubungan mereka di masa lalu, bukan?"

Citra mengangguk.

"Lalu apa yang membuatmu berpikir ia mau melakukannya, Citra?"

"Uang, tentunya. Uang yang cukup untuk menyelamatkan jiwa anak semata wayangnya."

***

13 April 1965

[TANJUNG]

AUDISI OPERA HUANG MEI SAMPEK ENGTAY DIMULAI BESOK PUKUL LIMA SORE DI AULA.

"Kau lihat ini, Tanjung?" Hana menunjuk pada pengumuman di mading sekolah. "Apa kau mau ikut?"

"Aku ikut kalau kau ikut."

"Bagaimana kalau kita tanya Lun Bao? Siapa tahu dia juga mau ikut."

"Tidak."

Lun Bao menolak tawaran itu singkat.

"Kenapa kau tak mau ikut?" tanyaku. "Bukankah seru jika kita bertiga bisa ikut bermain dalam opera ini?"

Lihat selengkapnya