Tanjung Hana

Rico Sumitomo
Chapter #17

Album Pentas

8 Juni 1990

Cipto meletakkan album foto tua itu di pangkuan, sampulnya lusuh termakan waktu. Jari-jarinya yang keriput membalik halaman pertama dengan hati-hati, seolah menyentuh sayap kupu-kupu.

"Kau ingat malam itu, Kak?"

Tanjung tidak menjawab. Selang infus menetes monoton, monitor jantung berkedip lemah di samping ranjang. Wajah sepupunya pucat keabu-abuan, matanya terpejam sejak berminggu-minggu lalu.

Cipto mengangkat album itu ke dekat wajah Tanjung, memperlihatkan foto hitam putih yang sudah menguning. Di sana, seorang pemuda bertubuh jangkung mengenakan jubah panjang sarjana zaman Dinasti Jin, rambutnya disanggul tinggi dengan tusuk kayu. Di sebelahnya berdiri seorang gadis berkebaya putih dengan selendang sutra yang menjuntai dari bahunya.

"Waktu itu aku masih SMP," Cipto mengusap foto itu. "Tapi aku ingat betul bagaimana kau berdiri di panggung. Kakiku sampai gemetar melihatmu, Kak. Bukan karena aktingmu bagus—memang bagus—tapi karena aku belum pernah melihatmu seyakin itu seumur hidupku."

Ia membalik halaman berikutnya. Foto Tanjung dan Hana berdiri berhadapan, tangan mereka nyaris bersentuhan.

"Hana... dia bukan cuma berakting jadi Engtay malam itu. Matanya benar-benar basah saat adegan perpisahan di paviliun. Seluruh aula senyap. Bahkan Instruktur Jun yang galak itu—aku melihatnya mengelap mata pakai lengan bajunya."

Cipto tertawa pelan, suaranya serak.

"Dan Kak Lun Bao, kau tahu apa yang lucu? Dia dapat peran Juragan Zhu, ayahnya Engtay yang tua dan cerewet. Perutnya diganjal bantal supaya kelihatan gendut. Setiap kali dia muncul di panggung, penonton tertawa sampai kursi bergeser. Tapi di adegan terakhir, waktu dia menolak lamaran Sampek..." Cipto berhenti sejenak. "Dia serius. Benar-benar serius. Aku sampai lupa kalau itu dia."

Ia membalik ke halaman terakhir. Foto seluruh pemain berdiri berjajar di panggung, membungkuk pada penonton. Tanjung di tengah, Hana di kanannya, Lun Bao di kirinya dengan bantal masih menggembung di balik kostumnya.

"Malam itu aku pulang dan bilang pada Ayah, aku mau jadi aktor. Ayah langsung menjewer telingaku."

Cipto menutup album itu perlahan.

"Kak Tanjung, kalau saja Kak Hana bisa ada di sini sekarang. Kalau saja dia bisa melihatmu, memegang tanganmu seperti waktu di panggung itu..." Suaranya pecah. "Mungkin kau akan bangun. Mungkin kau akan membuka matamu dan bertanya kenapa aku menangis seperti orang bodoh begini."

Ia menunduk, dahinya menyentuh tepi ranjang.

"Bangunlah, Kak. Kumohon."

Monitor jantung tetap berkedip. Lambat. Stabil. Tanpa perubahan.

Pintu kamar berderit terbuka. Seorang suster berseragam putih melangkah masuk dengan nampan aluminium di tangannya.

"Tuan Cipto, jam besuk sudah berakhir."

Cipto mengangkat kepalanya, mengusap wajah dengan punggung tangan. Ia mengangguk dan bangkit pelan, meletakkan album foto itu di meja samping ranjang.

"Baik, Sus. Terima kasih."

Ia menepuk tangan Tanjung untuk terakhir kali, lalu berjalan ke pintu. Langkahnya berat, sepatunya menyeret lantai linoleum.

Suster itu menunggu sampai pintu tertutup sepenuhnya. Ia berdiri diam selama beberapa detik, memandangi wajah Tanjung yang tak bergerak. Kemudian tangannya meraih nampan aluminium dan mengambil sebuah vial kecil berlabel KALIUM KLORIDA.

Ia mengangkat vial itu ke cahaya lampu neon, memutarnya perlahan di antara jari telunjuk dan ibu jarinya.

Lihat selengkapnya