Tanjung Hana

Rico Sumitomo
Chapter #18

Menjenguk Purbaya

5 Juli 1964

Akhirnya, setelah minggu ujian akhir yang brutal, para murid bisa berbahagia dalam liburan musim panas kali ini. Seluruh kelas bersorak sorai bagai prajurit yang baru saja memenangkan perang.

“Kamu rencana mau ke mana liburan kali ini, Maya?” tanya seorang gadis yang duduk di sampingnya.

“Oh, aku, aku mau jenguk kakakku yang sakit di Taipei.”

“Sakit? Sakit apa?”

“Tifus.”

“Oh, oke. Hati-hati ya. Titip salam untuk kakakmu, ya?”

“Iya, terima kasih.”

Maya meninggalkan kelas yang berisik itu dan berjalan menuju keheningan. Di dalam tasnya ada sebungkus bento yang baru ia siapkan pagi tadi dengan Xuelihong—sayur tumis pahit kesukaan kakaknya. Ia tidak tahu apakah pihak penjara akan mengizinkannya masuk atau tidak. Minggu lalu mereka bilang tidak. Minggu sebelumnya juga.

Udara di luar gerbang sekolah terasa berbeda—lebih panas, lebih ramai. Maya menyesuaikan tali tasnya dan terus berjalan.

Jalan Maya terputus oleh hajatan orang setempat. Dari pengeras suara, suara Ivy Lingpo mengalun merdu tentang cinta dan kebahagiaan, sementara di balik kerumunan pengantin yang tertawa itu, ia hanya bisa melihat jalan tikus yang sempit, penuh genangan, menuju stasiun kereta. Menuju kakaknya.

Selalu jalan tikus. Selalu.

Ia berjalan lebih cepat begitu gang itu meluaskan diri ke jalan besar. Di dalam bentonya, tumis Xuelihong sudah pasti mulai dingin — ia memasak terlalu pagi tadi, terburu-buru karena takut terlambat. Kapitan tidak pernah komplain soal makanan dingin. Tapi Maya selalu merasa bersalah kala melihat kakaknya tak bisa merasakan kehangatan dari masakannya.

Alim sudah ada di stasiun sebelum Maya tiba.

"Kamu telat lima menit," ucapnya.

"Di jalanan ada hajatan." Maya mengatur napasnya yang tersengal-sengal.

"Ini buat kamu." Ia mengulurkan es lilin itu. "Jeruk. Kesukaanmu."

Pandangannya melembut saat menerima es itu. Sudah tiga bulan mereka jadian, namun Maya masih belum terbiasa dengan cara Alim mengingat hal-hal kecil seperti ini.

Mereka berjalan berdampingan menuju loket. Alim mengambil alih tas besar di pundak Maya tanpa bertanya — gerakan yang sudah menjadi kebiasaan, natural seperti bernapas.

"Kamu sudah makan?"

"Sudah sarapan pagi, tapi siang ini belum."

"Simpan perutmu untuk sore hari, nanti kita makan di kedai Paman Guo." Ia merogoh saku depan dan mengeluarkan uang untuk dua tiket. "Dia penjual mi sapi terenak di area Tamsui."

Maya menatapnya sebentar. "Kamu tidak harus selalu—"

"Aku tahu aku tidak harus." Ia tersenyum pada petugas loket, menerima dua tiket, dan memberikan satu kepada Maya. "Tapi aku mau."

Kereta belum datang. Mereka duduk di bangku peron panas yang besinya memantulkan terik Juli tanpa ampun. Maya menyandarkan kepalanya ke bahu Alim, matanya setengah terpejam. Alim membiarkan tangannya bertumpu di atas tasnya.

"Apa kamu pikir Purbaya baik-baik saja?" tanya Maya tiba-tiba.

"Kapitan orangnya kuat."

"Tapi sudah tiga minggu ini wajahnya kelihatan aneh. Pucat. Matanya juga." Maya mengerutkan dahi. "Kemarin ia bilang semua kelihatan kuning. Lampunya, bajunya, wajahku."

Alim tidak langsung menjawab. Tangannya bergerak, mengelus rambut Maya perlahan.

"Penjara itu tempatnya suram," ucapnya akhirnya. "Cahayanya buruk, makanannya tidak bergizi. Wajar kalau matanya terganggu." Jarinya menyisir pelan ujung rambut Maya. "Untung ada kamu yang selalu datang membawa masakan yang selalu ia tunggu-tunggu," ia terdiam sebentar. “Boleh aku lihat isi bentonya?”

Alim membuka tas Maya saat ia mengangguk. Di dalam kotak nasi itu ia melihat telur rebus, acar, wortel, jamur tiram dan tumisan Xuelihong.

“Loh, kok nggak ada daging? Kari ayam gitu?”

“Kak Purbaya kan vegetarian,” ujar Maya sambil menahan tawa. “Masak kamu tidak tahu akan hal itu?”

Alim ikut tertawa, ia benar-benar malu atas ketidaktahuannya sendiri. 

“Kan aku pikir dia Kapitan yang garang, baru tahu aku ternyata dia buddha.”

“Bukan begitu, Kakak nggak suka daging karena….”

Perkataan Maya terpotong oleh suara kereta mulai terdengar — deru mesin diesel yang merambat dari balik tikungan rel. Alim menatap lurus ke depan, ke arah asap tipis yang mengepul di cakrawala Tamsui. Wajahnya tanpa sadar memunculkan senyuman tipis.

“Ayo, masuk,” ujar Alim menggaet lengan Maya. “Kita tidak mau ketinggalan tempat duduk, bukan.”

***

Gerbong kereta penuh seperti dugaan Maya. Di awal liburan semua orang punya tempat yang ingin dituju. Alim mengarahkannya dengan satu tangan ringan di punggungnya, melewati penumpang yang berdiri berdesakan di dekat pintu, sampai menemukan dua bangku kosong bersebelahan di dekat jendela.

"Duduklah," ucapnya.

Maya duduk, meletakkan tas di atas pahanya. Alim menaruh tasnya di rak atas dan duduk di sebelah bangku kayu yang sempit, bahu mereka hampir bersentuhan. Dari celah jendela yang terbuka setengah, angin sungai masuk membawa bau air, lumpur dan sesuatu yang segar namun tidak bisa dinamai.

Di ujung peron, kondektur mengangkat peluit ke bibirnya. Pintu-pintu gerbong ditutup berdentam satu per satu, dan tak lama kemudian, mesin itu mulai menggeram.

Setelah satu hentakan kecil, roda kereta mulai menggelinding di atas rel. Peron bergerak mundur di balik jendela, diikuti papan nama stasiun Tamsui, tiang listrik, dan atap rumah. Kereta sudah melaju.

Lihat selengkapnya