Tanjung Hana

Rico Sumitomo
Chapter #19

Peringatan Darurat

6 Juli 1964

“Maya, kenapa kau memanggilku kemari?”

Musan berdiri tepat di bawah pohon beringin tempat ia menyatakan cinta pada Maya setahun lalu. Tempat di mana ia ditolak mentah-mentah oleh Maya.

“Begini,” Maya melirik ke sekeliling, takut ada mata yang mengawasi. “Kamu tahu kakakku di penjara, kan?”

“Ya, Insiden Mei, aku tahu itu.” Musan mengangguk. “Ada pesan dari kakakmu untukku?”

“Bu—bukan begitu. Aku kemarin menjenguknya bersama Alim. Dia... dia bertingkah aneh sekali.”

“Aneh? Aneh kenapa?”

“Pandangannya kuning semua,” Maya menjelaskan. “Dia juga semakin kurus dan paranoid terhadap Lun Bao. Apa kakakku pernah menyakiti Lun Bao? Apa dia,” Maya melirik ke sekitar lagi, ia berbisik pada Musan, “meracuni kakakku?”

Musan mengernyit. “Setahuku Kapitan dan Lun Bao baik-baik saja. Tapi….”

“Tapi, tapi apa?”

“Kamu tahu Hana, kan? Anak baru dari Indonesia itu?”

“Ya. Yang pacaran sama Tanjung, kan?”

“Ya, jadi beberapa bulan lalu aku dengar Alim suka sama Hana.”

“Hah? Kamu dapat berita itu dari mana?”

“Di kedai kembang tahu. Alim bilang dia suka gadis yang… eksotis.”

Maya menghela napas. Ia tak menyangka Alim bisa menyebut kata itu.

“Ya, memang begitulah sifat Alim,” ujar Musan santai. “Suka mendominasi dan berpetualang.”

Maya terdiam. Apa ini alasan kenapa Alim mendekatinya di saat ia masih dekat dengan Ting-Ting? Maya menggelengkan kepalanya. Ini tidak mungkin. Cinta Alim hanya untuk dia seorang. Musan berkata begitu hanya karena dia cemburu dan dengki atas kegagalannya setahun lalu.

“Kamu pembohong! Munafik!”

Maya pergi begitu saja usai mengucapkan kalimat itu. Musan menarik napas panjang. Ia mulai mencium bahaya. Otaknya mulai berputar, mencari seseorang yang bisa diajak berkolaborasi dengannya.

Hana.

Lihat selengkapnya