Tanjung Hana

Rico Sumitomo
Chapter #20

Muslihat Alim

15 Juli 1964, 17:00

Alim berdiri di bayang-bayang tiang pagar tangga yang kusam, membiarkan amplop cokelat itu terbuka di antara mereka seperti sebuah luka lama yang dipaksa menganga. Maya menatap halaman-halaman itu. Di bawah keremangan lampu tangga, huruf-huruf di sana tampak seperti barisan semut yang mati mengering.

"Baca baris paling bawah," Alim berbisik. Suaranya datar, tanpa emosi, namun memiliki ketajaman silet. "Yang menyebutkan soal pasokan obat di sel Purbaya."

Udara di tangga itu terasa berat dan pengap. Dari luar, angin Tamsui membawa sisa panas aspal dan aroma amis sungai yang rendah. Maya membaca. Ia berhenti pada satu nama yang tertulis di sana: Lun Bao.

"Ini... tidak mungkin," gumam Maya. Suaranya tidak pecah. Ia hanya merasa seolah-olah oksigen di sekitarnya mendadak hilang.

"Aku juga ingin berpikir begitu," potong Alim. Ia melangkah sedikit lebih dekat, namun tetap menjaga jarak. "Tapi Lun Bao punya kendali atas para sipir itu. Dia tidak ingin Purbaya keluar. Purbaya adalah ancaman bagi posisinya di dalam geng."

Alim menatap dinding beton yang berjamur, menghindari mata Maya. "Kakakmu tahu terlalu banyak. Itulah sebabnya dia harus... diselesaikan."

Maya menutup diari hitam itu. Gerakannya sangat pelan, seolah takut suara kertas yang bersentuhan akan meruntuhkan seluruh dunia di kepalanya. Tangannya tidak gemetar. Dingin itu telah berubah menjadi batu di dalam dadanya.

"Jangan bicara pada siapa pun, Maya. Terutama tidak pada Lun Bao," Alim memperingatkan, suaranya kini nyaris tidak terdengar. "Jika kau tahu, kau berbahaya. Dan di kota ini, orang berbahaya tidak akan bertahan lama."

Lihat selengkapnya