Tanjung Hana

Rico Sumitomo
Chapter #21

Morse Linda

15 Juli 1964


[LUN BAO]


Orang bilang hidup bagaikan mimpi, aku bilang mimpi layaknya hidup


Itu adalah lirik yang Linda Lin Dai nyanyikan di tengah film Endless Love. Aku terpukau dengan gairah Linda saat ia menari di klab malam itu, juga dengan keahliannya dalam menari dan berganti busana yang nyaris magis. Di balik kacamata tebal yang kupakai, mataku tak berkedip, takut kehilangan satu detik pun dari aksi panggungnya yang memukau.


“Gila, ini bagaimana caranya ia berganti pakaian dari satu adegan ke adegan lain? Bahkan para penari latar pun tidak secepat itu.” Gumamku pelan, hampir tidak terdengar di tengah gaung suara orkestra film.


Aku mengupas cangkang telur teh dengan perlahan—taktik untuk memperlambat waktu—dan memasukkannya ke dalam mulutku. Rasa gurih manis yang khas itu seolah menjadi penawar pada pahitnya realitas. Memang asyik bisa menikmati karya seni andalan Hong Kong, yang penuh fantasi di tengah rezim yang mencekam ini. Dunia di luar sana bisa saja penuh ketakutan dan bisikan rahasia, tapi di dalam bioskop tua ayahku, hanya ada Linda Lin Dai dan janji akan pelarian sesaat.


Suara Jazz yang sendu dan berat dari saksofon membawaku kembali ke alam mimpi. Aku ada di sana, di antara kerumunan yang kabur, menonton Linda menyanyi untukku seorang. Sorotan lampu di panggung terasa seperti sinar rembulan yang menembus jendela kamar.


Oh, Linda. I love you.


Suasana di bioskop ini mendadak luruh. Bunyi mesin proyektor tua yang berderak dan aroma telur teh yang mengepul seolah menguap, digantikan oleh tiupan saksofon yang malas namun menggoda. Di bawah sorot lampu proyektor yang tajam yang membelah kegelapan, Linda bukan lagi sekadar bayangan di atas layar seluloid. Dia ada di sana—tepat di depanku, menyanyi hanya untukku di tengah kesunyian aula Tamsui yang luas. Setiap gerakan tangannya adalah isyarat, setiap lirikan matanya adalah janji.


Saat kau terbangun dari mimpi, kau telah menyelesaikan hidupmu.


Lagu itu berakhir dengan nada yang menggantung, sebuah renungan tentang mimpi dan kenyataan. Aku berdiri dan menepuk tanganku dengan kuat, sorakanku bergema kosong. Film belum benar-benar selesai, tapi aku merasa sudah mendapatkan semua yang kubutuhkan. Tanpa sengaja aku melirik ke arah jarum jam di tanganku. Pukul tujuh malam.


“Gawat! Aku kan ada janji mau belajar bareng Hana dan Tanjung. Mereka pasti sudah membeku di Kedai Paman Guo.”


Aku bergegas meminta tukang proyektor untuk menghentikan film dan pergi meninggalkan bioskop ayahku lewat pintu darurat. Pikiranku sudah dipenuhi oleh omelan Tanjung yang pasti sudah disiapkan matang-matang.


[TANJUNG]


“Kamu telat. Dua jam! Kamu telat dua jam, Lun Bao.”


Aku memandang sahabatku itu dengan tatapan geram. Ia datang dengan napas terengah-engah, wajahnya masih memerah—entah karena lari atau karena apa. Hana hanya menggelengkan kepala, tangannya masih memegang pensil, seolah dia sudah memprediksi keterlambatan ini dan memilih untuk melanjutkan tugas musim panasnya.


“Maaf Kerbau. Aku keasyikan nonton film. Kau tahu kan, film Linda itu seperti candu.” Lun Bao mencoba merayu, senyumnya yang polos itu sering kali berhasil meredakan amarahku. Tidak kali ini.


“Film apa sih yang bikin kamu sampai lupa waktu dan lupa diri? Apa gunanya kita buat janji jika kamu selalu memprioritaskan hantu-hantu di layar bioskop itu?” tuntutku.


“Apa lagi kalau bukan film-filmnya Linda dan Betty. Lagipula kalian juga senang kan kalau aku tidak mengganggu kencan kalian?” Ia menyeringai penuh arti ke arahku dan Hana. Hana tersipu dan menyikut Lun Bao, tapi tatapannya padaku tidak bisa menyembunyikan kebenaran.


Aku tertegun. Di satu sisi aku sebenarnya bersyukur bisa bersamaan dua jam penuh dengan Hana, tanpa suara berisik Lun Bao. Tapi di sisi lain, aku tidak bisa membiarkan tikus satu ini selalu korupsi waktu dan menyia-nyiakan masa depannya. Dia adalah yang terpintar di antara kami, namun dia juga yang paling tidak disiplin.


"Kencan apa?! Kita di sini mau belajar matematika dan bahasa, bukan mau bahas gosip klab malam Hong Kong. Fokus, Lun Bao! Kamu sendiri kan yang bilang nilai matematikamu anjlok di tes kemarin. Apa kamu mau balik lagi ke sekolah malam dan menghabiskan tahun terakhirmu mengulang pelajaran?”


“Ya, ya. Aku tahu. Maafkan aku. Ayo kita belajar.” Lun Bao mengangkat kedua tangannya dalam gestur menyerah, meski matanya masih menyimpan sisa-sisa kegembiraan film.


“Kamu sudah kelewatan sesi mandarin. Dua jam! Sekarang kita masuk ke pelajaran matematika. Subjeknya geometri, kebetulan Hana jago di materi ini.”


Lun Bao menarik napas berat, ia duduk di tepi meja yang sempit dan mengeluarkan buku matematikanya dengan malas. Sementara aku mengganti buku mandarinku yang sudah tuntas dengan novel Qiong Yao. Aku menaruhnya tegak di depan wajahku, menciptakan dinding kecil antara aku dan meja belajar.


“Lah, kok kamu tidak ikut belajar?” Lun Bao protes.


“Nilaiku sudah lulus tahun ini. Lagipula semester depan aku ambil kelas sastra. Jadi buat apa aku belajar lingkaran dan segitiga?”


Aku rasa Lun Bao ingin membantah argumenku, namun ia tertahan oleh jeweran Hana yang diam-diam menyentil telinganya. Aku tertawa kecil, melirik ke arah Hana yang tersenyum lalu lanjut membaca novelku.

Lihat selengkapnya