[LUN BAO]
Lelah.
Kata itu tak cukup mendeskripsikan kondisi badanku. Bukan hanya fisik, tapi juga mental. Sepanjang perjalanan pulang dari rumah sakit, otakku terasa seperti mesin tua yang dipaksa bekerja di luar batasnya. Bunyi klakson, derap kaki, dan aroma masakan dari warung-warung kaki lima terasa menjauh, memudar, hanya menyisakan satu fokus: Alan.
Mengapa keponakanku yang kaku dan tertutup itu bisa mengetahui soal Kapitan? Bagaimana ia tahu detail kode rahasia di jendela kamarku? Dan yang lebih gila lagi: Bagaimana cara Alim, kawan lamaku, menghabisi nyawa Kapitan? Otakku terus memutar-mutar skenario, mencari celah, mencari jawaban di labirin informasi yang terasa menyesatkan. Aku berhenti di depan pintu, memasukkan kunci ke lubang kunci. Bunyi klik pelan, tapi di telingaku ia terasa seperti ledakan.
Tepat di saat kenop pintu berputar, sebuah bohlam imajiner benar-benar muncul di atas kepalaku, berpendar terang.
Digitoxin.
Sebuah memori muncul, secepat kilat menyambar kegelapan. Aku pernah ke rumah Alim. Kunjungan biasa, membawakan soda dan mengobrol tentang masa lalu. Alim punya ayah dengan riwayat penyakit jantung. Aku ingat betul, rak dapur mereka yang sederhana. Dan di sana, tergeletak sebotol obat berwarna gelap dengan label bertuliskan 'Digitoxin'. Obat jantung yang umum, namun bisa menjadi racun mematikan jika dosisnya berlebihan. Alim tidak punya cukup uang. Ia adalah seorang pengamen jalanan yang hidup dari lagu-lagu barat. Untuk ayahnya, ia akan membeli apa pun yang termurah. Dan Digitoxin-lah obat yang ia mampu beli.
Kepalaku bersandar ke pintu, mataku terpejam. Semua terasa dingin. Dengan akses mudah ke obat itu dan pengetahuannya tentang dosis, Alim bisa meracuni Kapitan. Mungkin ia memberikannya dalam kotak nasi yang Maya bawa tiap kali menjenguk kakaknya. Cara pembunuhan yang begitu licik, begitu dekat. Persis cara Poirot memecahkan kasus-kasus pelik—selalu dimulai dari hal yang paling sederhana dan terabaikan.
Baik. Masalah cara pembunuhan sudah selesai. Kapitan mati karena overdosis racun yang dikira obat. Sekarang, pertanyaan terberatnya: Mengapa Alan bisa tahu soal ini? Apa ia punya kedekatan tersembunyi, sebuah komunikasi rahasia, dengan Alim yang tidak pernah kusadari? Mereka berdua begitu dingin, begitu pintar, begitu terobsesi pada detail. Atau, apa ini ada hubungannya dengan buku terkutuk yang dibawa Alan waktu datang kemari?
Aku memutuskan membiarkan semua pertanyaan itu mengendap di dalam alam bawah sadarku. Aku lelah memikirkannya. Aku harus fokus pada hal yang lebih penting, membuka dokumen rahasia Kapitan.
Aku masuk ke kamar, sebuah ruangan kecil yang selama ini menjadi tempatku melarikan diri dari dunia. Lampu meja di samping tempat tidurku berkedip dua kali, seolah ragu, sebelum akhirnya menyala stabil. Cahayanya yang kekuningan menyinari isi amplop cokelat yang tergeletak di atas meja. Di permukaan amplop itu, dengan tulisan tangan Kapitan yang rapi dan terawat, tertulis:
JANGAN DIBUKA SEBELUM AKU MATI.
Tanganku gemetar hebat. Sebuah getaran yang datang bukan dari rasa dingin, melainkan dari ketakutan. Aku ingin menepis semuanya. Aku ingin percaya bahwa Alan sedang berhalusinasi saat mengetuk kode itu. Aku ingin percaya bahwa aku yang terlalu paranoid, bahwa Kapitan hanya meninggalkan surat biasa.
“Tidak!”
Aku tahu Alan. Keponakanku itu adalah manusia yang paling logis, dingin, dan pintar yang pernah kukenal. Dia tidak akan bercanda tentang hal ini. Aku bisa memercayainya seratus persen.
Aku menarik napas panjang. Udara yang kusedot terasa tajam dan dingin di paru-paruku. Jantungku berdebar tak karuan, seperti genderang yang dipukul cepat dan keras. Aku sedang membuka kotak pandora. Apa sebenarnya isi wasiat rahasiamu ini, Kapitan? Apakah ini petunjuk, atau hanya sekadar ucapan selamat tinggal?
Di dalam amplop itu, tidak ada surat. Tidak ada uang. Hanya sebuah piringan hitam kecil berukuran 7 inci. Sebuah single dari grup vokal legendaris era 40-an, The Ink Spots. Permukaannya tampak agak tergores, namun masih terawat. Sebuah lagu cinta yang ironis untuk dijadikan wasiat.