"Ini semua gara-gara ulahmu, Bao."
Genggaman Musan pada buku hitam lusuh itu begitu erat, seolah satu-satunya tali yang menghalanginya dari jurang. Suaranya serak, bukan karena teriakan, tapi karena ratapan yang ditahan terlalu lama. Mata kosongnya menatap sampul kulit buku yang terkelupas — warisan terakhir dari Maya. Dari kakaknya. Dari seseorang yang mati karena tangannya sendiri.
"Ya," jawabku pendek, "aku tahu."
Angin laut Tamsui malam ini asin dan jahat. Kabut menebal, menelan ujung-ujung atap sekolah. Musan tampaknya tidak merasakan satu pun dari itu. Ia hanya duduk dan menatap buku itu, seolah ada sesuatu di dalamnya yang masih bisa dikembalikan.
*Kalau kubiarkan ia memegang benda itu lebih lama, ia akan memilih mati malam ini.*
"Musan—"
"Aku ingin mati bersama Maya."
Tidak ada jeda. Aku berdiri, melangkah dua langkah, dan merebut buku itu dari tangannya dengan satu sentakan keras.
Reaksinya seperti orang yang baru disengat lebah.
"Hei! Kembalikan itu!"
"Mau kubakar." Aku melangkah mundur, menjauh.
"JANGAN—"
Ia berdiri. Lutut yang tadi lemas mendadak punya tenaga. Begitu yang kuperlukan.
"Tangkap aku kalau bisa," ujarku, lalu berlari.
***