16 Juli 1964
[LUN BAO]
Hal pertama yang kusadari setelah siuman adalah bau debu tua, minyak proyektor yang sudah lama tidak diganti, dan samar-samar—darah. Entah milikku atau milik lantai yang sudah terlalu lama menyimpan rahasia orang lain. Di bioskop tua ini, sulit membedakan mana yang milik siapa. Dindingnya menyerap segalanya dan tidak pernah mengembalikan apa pun.
Hal kedua yang kusadari adalah rasa sakit yang berjalan pelan, mengetuk satu per satu pintu di sekujur tubuhku. Telinga kanan dulu. Lalu tangan. Lalu punggung, yang rupanya sudah cukup lama berbaring di lantai semen dingin yang tak pernah tersentuh hangatnya matahari.
Hal ketiga yang kusadari adalah Musan. Ia duduk di kursi terdepan bioskop dengan gaya seseorang yang sudah menunggu cukup lama; melampaui tahap jengkel, dan masuk ke tahap yang lebih tenang sekaligus lebih berbahaya. Punggungnya bersandar santai, kaki menyilang, matanya menatap layar putih yang kosong. Seperti penonton yang datang terlalu awal dan memutuskan untuk menikmati kekosongan sebelum film dimulai.
"Sudah siuman, psikopat?"
Aku terkekeh lalu merintih. Rasa sakit perlahan menjalar, menyatu dengan sensasi dingin lantai yang menusuk punggungku.
“Aku heran kenapa kau tidak membunuhku? Bukankah aku orang yang kau tuduh membunuh Maya dan Kapitan?”
Ia menoleh. Di tangannya ada buku hitam lusuh yang sudah kukenal terlalu baik.
"Menurut diari ini," ia melemparkan buku itu ke dadaku—tidak keras, lebih seperti seorang jaksa yang menaruh bukti di meja sidang. "Ini diari yang menuntun Maya ke peron maut, bukan? Aku sudah tahu orang yang menulis ini bukanlah Kapitan."
“Oh, ya?” tanyaku sambil menahan perih. “Dari mana kau tahu?”
“Gaya bahasa. Meski teknik menulisnya mirip Kapitan, narasinya terlalu mendayu-dayu. Contohnya: ‘Pandanganku menguning bak tercelup cairan empedu.’ Ini terlalu puitis untuk preman sekaliber Purbaya. Aku tahu dari awal kalau ini gaya bahasanya Alim.”
“Lantas, kenapa kau menuduhku waktu itu?”
"Karena aku perlu memastikan kau bukan komplotan Alim." Sudut birirnya berkedut. "Aku baru yakin kau bersih saat kau mengeluarkan jurus licik itu—merebut diari dan berniat membakarnya hanya supaya aku mengejarmu. Orang yang bersalah tidak akan susah payah naik ke atap untuk bermain kejar-kejaran."
Aku menatapnya dari lantai. "Pandai juga kau. Aku kira anak sekolah malam itu bodoh semua."
"Jangan remehkan intelektual orang Shanghai." Ada nada congkak yang kental. "Ayahku apoteker andal di zaman Zhou Xuan. Membaca tulisan resep dokter adalah makanan sehari-harinya. Lagipula, kalau aku mau, aku bisa pindah ke sekolah pagi dengan mudah. Aku selalu juara satu di kelas."
“Ya, itu karena pesaingmu malas semua. Easy win!”
“Touche.”
Keheningan menyelimuti aula bioskop. Entah mengapa perseteruan kami selama empat tahun terakhir terasa sirna begitu saja.
“Maaf, aku tidak bisa menyelamatkan Maya.”
Kedua mata Musan membelalak saat aku menyebut nama itu. Kami berdua terdiam, berkabung dalam sunyi atas kepergian Maya.
“Aku benar-benar mencintainya, Lun,” ujarnya perlahan. “Aku pikir dia akan bahagia dengan Alim.” Ia tercekat sesaat. “Tak kusangka pengecut itu bisa sejahat ini hanya karena merasa diselingkuhi.”
“Diselingkuhi?” aku berusaha bangkit. “Bukannya Alim yang meninggalkan Ting-Ting dan berselingkuh dengan Maya?”