17 Juli 1964
[TANJUNG]
"Anak itu terlambat lagi."
Aku menatap jam di dinding. Jarum pendeknya menunjuk tepat ke angka pukul setengah tujuh, batas akhir toleransiku.
"Mungkin dia menonton film Linda lagi," sahut Hana santai. Ia tidak mengangkat matanya dari buku pelajaran, seolah kata-katanya hanyalah bagian dari ritme belajar kami yang tenang.
"Ini tidak bisa dibiarkan, Hana," ucapku tegas sambil menekan ujung pensil ke meja hingga kayunya sedikit mengerit. "Kebiasaan buruknya ini akan menghancurkan masa depannya."
"Kebiasaan buruk siapa yang akan menghancurkan siapa?"
Suara itu datang dari ambang pintu. Aku menoleh.
Lun Bao berdiri di sana dengan senyuman miring yang sudah sangat kukenal. Namun, senyum itu terasa seperti topeng tipis yang dipaksakan di atas wajah yang remuk. Perban di telinganya telah merembes; darah menghitam yang membekas di sela serat kasa yang lembap.
Namun, yang membuat bulu kudukku meremang bukanlah luka Lun Bao, melainkan bayangan yang merayap masuk di belakangnya. Musan melangkah masuk dengan tangan di saku, diikuti oleh seekor anjing berperawakan tegap dengan bulu hitam legam.
"Guk! Guk!"
Anjing itu, Robin, menyalak pendek. Suaranya yang berat bergema di ruangan sempit itu, memaksa Hana tersentak hingga jangkanya menggores kertas. Robin mengibas-ngibaskan ekornya dengan riang ke arah kaki Musan. Bunyi ekornya yang menabrak kaki meja—buk, buk, buk—terdengar seperti detak jantung yang salah arah.
"Mengapa kamu ada di sini?" nadaku naik satu oktaf. "Bawa pergi anjing itu! Ini bukan tempat untuk hewan liar."
Musan tidak langsung menjawab. Ia mengusap kepala Robin, membiarkan ketegangan itu menggantung sesaat di udara yang mendadak berbau debu jalanan dan bau preman. Ia menatap Hana sekilas, lalu kembali padaku dengan senyum yang terlalu santai.
"Wow, seram juga kau rupanya, Tanjung." Ia melirik Hana kembali. "Apa kau takut aku merebut Hana?"
Darahku mendidih. Ia tahu persis di mana harus menusuk. Ia adalah Ma Wencai dalam wujud nyata—predator yang tahu cara memanipulasi emosi orang lain.
"Sudah, sudah." Lun Bao mengangkat tangannya, berdiri di antara kami seperti tembok pemisah yang sudah mulai retak.
"Kalian berkelahi lagi, bukan?" tanyaku, mengalihkan pandangan dari Musan ke arah Lun Bao yang duduk dengan sangat hati-hati, seolah setiap tarikan napas menyiksa tulang rusuknya.
"Ya," jawab Lun Bao pelan. "Kali ini aku melawan musang ini satu lawan satu."
"Dan aku yang menang," timpal Musan.
Aku mengernyit. Lun Bao pandai wushu, ia tidak mungkin kalah begitu saja. Kecuali—
"Aku menggunakan Robin untuk melawan Lun Bao," jawab Musan tenang, seolah sedang melaporkan cuaca hari ini. Ia melirik Robin yang kini duduk anteng di sampingnya, menjulurkan lidah dengan wajah tak berdosa.