[LUN BAO]
Juli ini adalah bulan kesialan bagiku. Tiga paku tertancap berturut-turut: Kapitan dan Maya yang meregang nyawa secara tragis, lalu Linda—sang Diva yang memilih maut daripada dunia yang bising. Dan paku terakhir, yang paling berkarat, adalah keharusanku berdiri berhadapan dengan Alim; si badut busuk yang sedang mementaskan trik sulap murahan tepat di depan mataku.
“Kapitan, Maya, lalu Linda,” air mataku tak terbendung lagi. “Kenapa dunia ini begitu kejam, Lim?”
Si badut memelukku erat, bau rokok di mulutnya memenuhi hidungku. Aku ingin muntah, namun niat itu kutahan demi kelangsungan sandiwara ini.
“Terima kasih, kawan,” aku menelan ludah. “Cuma kau satu-satunya kawan terbaikku, Alim.”
Aku yakin iblis satu ini pasti sedang tertawa di dalam hatinya. Dengan percaya dirinya ia berkata, “Sudahlah, yang berlalu biarlah berlalu. Apa kau mau makan di kedai Paman Guo? Aku yang traktir. Oke?”
Aku mengangguk setuju. Kami berdua pergi meninggalkan rumah duka dan membawa sepeda kami menuju kedai mi favoritku.
“Paman Guo!”
“Hai, Alim, Lun Bao. Lama tak jumpa. Ke mana saja kalian?”
“Kami baru saja pergi melayat,” ujar Alim. “Mi sapi spesial dua ya!”
“Benar-benar Dajjal!” pikirku. “Teman dan adiknya baru saja meninggal dan dia dengan senangnya memesan mi sapi spesial.”
Lima belas menit kemudian, dua mangkuk mi sapi mendarat di atas meja kayu kami yang kusam dan lengket oleh lemak tahunan. Uapnya mengepul tebal, menghalangi pandanganku dari wajah Alim yang tampak sangat tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja kehilangan rekan terbaiknya. Aroma bintang bunga lawang dan kaldu sapi yang kental menyerang indra penciumanku, menarik paksa kesadaranku kembali ke realita yang menyedihkan ini.
Aku melirik mangkuk Alim. Dia sudah mulai mengaduk kuahnya dengan gerakan ritualistik. Dia terlihat menikmati setiap aroma yang keluar dari mangkuknya.
Dia belum sadar. Dia pikir aku masih tenggelam dalam duka yang melumpuhkan. Dia pikir trik sulapnya—fitnah dan kepura-puraan itu—masih bekerja sempurna padaku.
Baiklah, Lim. Mari kita bermain.