21 Juli 1964
[LUN BAO]
"Sebenarnya apa hubungan kalian berdua?"
Pertanyaan itu dilempar Tanjung tepat ke tengah-tengah kami, seperti batu ke kolam yang sudah terlalu lama tenang. Aku dan Hana bertukar pandang—sedetik saja, tapi cukup untuk menjawab setengah dari apa yang belum sempat ditanya.
"Maksudmu apa, Tanjung?"
"Maksudku," ia menghela napas, pelan tapi bukan karena lelah—lebih mirip orang yang sedang memilih kata dengan sangat hati-hati. "Beberapa hari lalu aku mendengar percakapanmu dengan Alim. Kenapa kau bisa tahu terlalu banyak soal kematian Maya dan kakaknya? Kenapa kau tahu kalau Acun dan Musan pelakunya?"
Abunai. Aku tidak menyangka Tanjung mau repot-repot menguping percakapanku dengan badut itu.
"Ehm, itu… kan aku bilang aku mulas—"
"Bohong." Tidak keras, tapi tegas seperti paku yang dipukul sekali, pas. "Waktu itu kau bilang kepalamu sakit. Pening." Matanya tidak bergerak dari wajahku. "Lagipula rumahmu dekat dari sini. Kenapa tiba-tiba muncul di sekolah? Di gedung Ren'ai lagi."
Hening menggantung. Lalu Hana membuka mulutnya.
"Musan bukan pelakunya."