Tanjung Hana

Rico Sumitomo
Chapter #29

Giok Naga Putih

[TANJUNG]

Di tengah panasnya hawa bulan Agustus, aku dan Bibi Guo sibuk menyiapkan wonton untuk keperluan kedai. Meski kami sudah duduk tepat di bawah hembusan kipas angin, peluh tetap saja membulir membasahi kening. Sesekali aku menyeka keringat dengan handuk kecil yang menggantung di leher, namun butiran keringat yang lolos tetap saja menyelinap ke mata, membuatnya perih dan berair.

Tanganku kembali menyendok secuil daging ke atas kulit pangsit, lalu melipatnya dengan cekatan. Aku sempat tertegun melihat tumpukan wonton di hadapan Bibi Guo; jumlahnya tiga kali lipat lebih banyak daripada buatanku.

Bibi Guo menghela napas, menghentikan pekerjaannya sesaat. Aku mengikuti arah pandangnya yang tertuju pada Paman Guo dan Hana yang duduk berhadapan.

“Bibi sedang termakan cuka ya,” ujarku sembarangan.

"Enggak, Bibi tidak masalah, kok." Bibi Guo segera menunduk, melanjutkan pekerjaannya.

Aku tertawa kecil melihat reaksi perempuan tua itu. Namun, tawa itu langsung senyap saat ia memelototiku. Sambil membungkus adonan daging, aku melirik kembali ke arah mereka. Hana dan Paman Guo tampaknya masih sibuk berunding mengenai daftar menu baru. Canda tawa sesekali terselip di tengah obrolan, membuat siapa pun yang lewat akan mengira mereka adalah sepasang ayah dan anak.

“Nah, Paman. Aksara ini sebaiknya diterjemahkan begini,” ujar Hana sambil menuliskan sesuatu di atas kertas putih.

“Oh, begitu rupanya,” Paman Guo manggut-manggut. “Selama ini kukira ini artinya.”

Paman menuliskan sebuah kata lain di atas kertas. Hana tertawa seketika.

“Itu kata kasar, Paman.”

“Oh!” Paman Guo ikut tertawa lebar. “Pantas saja muka serdadu Amerika itu mengerutkan dahi saat kujelaskan menu ini kepadanya.”

Aku tersenyum sendiri mendengar percakapan mereka. Baru kali ini aku melihat Paman Guo seceria ini. Semenjak Hana hadir, mendung di wajah Paman seolah tersapu. Ia akhirnya menemukan teman satu kampung halaman untuk berbagi cerita.

Sekampung… kata itu mengingatkanku pada kejadian beberapa waktu lalu, saat aku mulai menyadari satu hal unik lagi tentang dirinya. Ternyata, leluhur kami pernah saling mengenal jauh di masa lalu.

Seminggu lalu, aku dan Hana sedang beristirahat di ruang keluarga setelah belajar bersama untuk ujian. Paman Guo yang sedang membaca koran tiba-tiba mendekati Hana.“Hana,” ia menunjukkan korannya, “kamu tahu jawaban untuk ini?”

Overseas, Paman.”

“Ah, terima kasih.” Ia meminjam pensilku dan menuliskan jawabannya di kotak teka-teki. Tak lama kemudian, Paman Guo melipat korannya dan bertanya pelan, “Paman dengar kamu anak peranakan, benar?”

Hana mengangguk sopan.

Lihat selengkapnya