Tanjung Hana

Rico Sumitomo
Chapter #30

Malaikat Jalanan

[LUN BAO]

“Tujuh belas agustus tahun empat lima, itulah hari kemerdekaan kita!”

Yamete kudasai,” ujarku menahan keceriaan Musan. “Kau tahu aku baru kehilangan Linda, kan?”

“Oh, oke,” Musan terdiam sesaat. “Warukunakatta. Gomen.

“Lu lupa kalau kita ini musuhan ya?” timpalku. “Jangan sok jadi teman gue, lah! Lu tuh bukan Tanjung.”

"Iye, gue tahu," ujar Musan. "Gue emang nggak pernah punya sahabat. Semua orang menganggap gue cuma alat doang.”

Ada rasa bersalah pada diriku waktu mendengar kalimat itu. Dia kuat dan pintar, tapi di satu sisi dia juga rapuh dan bebal.

"Ya udah, gue maafin," ujarku. "Nih aku putar film perdana Zhou Xuan, Malaikat Jalanan.”

Musan tersenyum tipis. Aku mengatur pemutar film dari belakang sementara Musan menjadi penonton tunggal, menikmati film yang sudah ia tunggu-tunggu selama sebulan.

Adegan cerita dimulai dari Xiaohong yang melambaikan sarung tangannya dari jendela pada kekasihnya yang sedang parade di jalan. Dia ditegur oleh ayahnya untuk kembali ke dalam kedai untuk menyanyikan lagu pertamanya: Lagu Empat Musim.

Musim semi tiba, hijaunya memenuhi jendela.

Nona menyulam sepasang bebek di bawahnya.

Tiba-tiba pukulan tanpa ampun menghantam.

Buat sepasang bebek itu jauh berpisah.

Aku takjub melihat gerakan mata Zhou Xuan waktu memainkan perannya sebagai Xiaohong. Seperti anak remaja yang sedang dalam masa pemberontakan. Sama dengan kami sekarang.

“Bagian ini menarik,” ucapku pada Musan. Namun ia tak menjawab dan tetap duduk bergeming.

Film terus berjalan hingga mencapai puncaknya—tragedi yang tak terelakkan, kematian sang kakak, dan hilangnya masa depan. Begitu tulisan "TAMAT" muncul dan pita film mulai habis, suara kepak sisa film yang berputar kosong—plak, plak, plak—terdengar seperti suara tepuk tangan yang hambar.

Aku mematikan lampu proyektor. Ruangan mendadak gelap total, hanya menyisakan aroma seluloid panas dan debu yang terbakar. Aku menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa sesak setelah menonton mahakarya itu.

“Nah, tuh, filmnya sudah selesai,” ujarku. “Sekarang….”

Kalimat itu kubiarkan menggantung begitu saja di udara. Musan sama sekali tak memberikan respons.

Lihat selengkapnya