Tanjung Hana

Rico Sumitomo
Chapter #31

Penduduk Kane

Tamsui, 1 September 1964

My dear Citra,

Maafkan aku karena baru bisa membalas suratmu sekarang. Tak terasa sudah tiga bulan berlalu. Aku merasa seolah-olah waktu di Taiwan berjalan lebih cepat daripada yang kubayangkan. Jujur, membaca ceritamu tentang Los Angeles dan Roberta membuatku sedikit iri akan keadaanmu yang lebih baik dariku di sini.

Oh ya, tentang ramalanmu di pesawat itu... kuharap kau benar bahwa itu hanya permainan kanak-kanak. Namun, keadaan di sini membuat "permainan" itu terasa begitu nyata. Kau tahu, Tanjung, bukan? Pria yang pernah kuceritakan itu? Dia tetaplah menjadi sosok yang lugu dan penurut. Terkadang aku merasa bersalah menggunakan dia dan membiarkan orang-orang di sekolah menganggap kami memiliki hubungan istimewa, padahal aku hanya mencoba untuk bertahan hidup dari gangguan orang seperti Acun.

Lalu Musan, Oh kau harus tahu betapa licinnya pemuda itu, Citra. Dia masuk ke dalam grup kami dan mulai mengajakku berkencan di Jiufen tanpa sepengetahuan Tanjung. Apakah ini perselingkuhan? Aku rasa tidak. Secara aku juga tidak pernah berpacaran dengan Tanjung, bukan?

Aku harap kau bahagia dan menemukan cinta sejatimu di sana. Aku harap kita bisa lagi bertatap muka di lain waktu.

Peluk dan cium,

Hana

***

Liburan musim panas telah usai. Seperti biasa, aku dan Xing Yuan harus bergegas menghabiskan sarapan di hari pertama sekolah. Xing Yuan, yang selesai lebih dulu, langsung berpamitan dan berangkat dengan sepeda barunya—hadiah dari Paman atas prestasinya menjadi juara kelas dua minggu lalu. Aku turut bangga; setidaknya ban sepeda dan lututku tak lagi harus menyangga beban Xing Yuan setiap hari.

Instruktur Militer Jun menyapaku di depan gerbang sekolah dengan tatapan elang yang mengintimidasi. Aku segera membuang muka dan berlari sekencang mungkin menuju lapangan. Barisan sudah merapat rapi, dan aku segera menyelinap ke barisan belakang yang masih kosong. Napas masih terengah-engah saat aku berdiri tegak, untungnya aku tiba tepat lima menit sebelum upacara dimulai. Terlambat sedikit saja, nasibku akan berakhir di tangan para instruktur yang berjaga di gerbang.

Di tengah pidato pembukaan, mataku mencari-cari hingga menemukan Hana dan Musan di barisan lain. Rambut Hana yang semula panjang kini telah dipotong setinggi pundak, memancarkan pesona yang benar-benar berbeda. Tahun ini, aku harus menerima kenyataan pahit berpisah kelas dengan mereka. Aku masuk jurusan Ilmu Sosial bersama Lun Bao, sementara Hana dan Musan di jurusan Ilmu Alam. Meski masih satu sekolah, gedung kami berbeda. Ada sedikit rasa sesak saat menyadari tak bisa lagi duduk sekelas dengan mereka, namun setidaknya aku masih bisa menemui mereka saat istirahat siang.

Kepala Sekolah Wen kembali menyampaikan pidato panjang yang terdengar persis seperti semester lalu. Aku sesekali mengibas kerah baju karena kepanasan; berdiri di lapangan ini membuatku merasa seperti ikan asin yang sedang dijemur di bawah terik matahari.

Seluruh murid bernapas lega saat upacara berakhir. Setelah ritual piket massal dan berbagai pengumuman kelas baru, kami akhirnya diperbolehkan pulang.

“Aku pulang!” seruku sambil melepas sepatu di ambang pintu.

Bibi Guo melongok dari balik dapur. “Tanjung! Ayo makan. Xing Yuan dan Pamanmu sudah menunggu di meja.”

“Iya, Bi! Aku mandi dan ganti baju dulu.”

Lihat selengkapnya