Tanjung Hana

Rico Sumitomo
Chapter #32

Kencan Terlarang

19 September 1964

[Lun Bao]

Aku benci menjadi seorang penguntit. Tapi aku tak punya pilihan lain. Aku harus melihat kekalahan Musan dengan mata kepalaku sendiri. Lagipula kapan lagi aku bisa mengamati keponakanku bersama musuh bebuyutanku berpacaran, bukan?

Aku menjaga jarak aman, sekitar sepuluh meter di belakang mereka. Cukup jauh agar mereka tidak curiga, cukup dekat untuk menangkap siluet mereka di antara keramaian sore Tamsui. Mereka berjalan santai menyusuri tepi sungai, bergerak ke arah stasiun kereta. Musan mengenakan seragam sekolah dan Alan, di sampingnya, tampak seperti biasa. Tenang, dengan rambut sebahu yang bergerak lembut ditiup angin laut.

Mereka berhenti di sebuah kedai kecil yang menjual jus tebu. Musan membeli dua gelas. Dia menyerahkan satu pada Alan, dan saat tangan mereka hampir bersentuhan, aku menahan napas. Tapi tidak ada apa-apa. Hanya pertukaran gelas yang sopan. Sialan. Aku berharap ada sesuatu yang salah, sesuatu yang bisa kugunakan untuk mencemoohnya nanti. Tapi Musan terlalu mulus. Dia tahu cara bersikap.

Aku menyelinap di balik tiang, berpura-pura mengikat tali sepatu yang sebenarnya tidak lepas. Aku melihat gerak gerik mereka dari sudut mataku.

“Edan, jadi waktu itu lu keluar bioskop sambil nyanyi Halo-halo Bandung?” ucap Alan yang hampir tersedak.

“Hahaha,” Musan tertawa lepas. “Lu belum tahu aja muka paman kecil lu itu waktu gue bilang ‘ojo lali yo’.”

Jancuk, mereka ngomongin gue dari belakang.

Mereka mulai berjalan lagi menuju Stasiun Tamsui. Langkah mereka ringan, sementara langkahku terasa berat karena perasaan yang campur aduk. Di gerbang stasiun, Musan sempat berhenti sejenak, melihat ke arah belakang—tepat ke arahku. Aku buru-buru pura-pura baca koran Central Daily News yang sudah kusiapkan.

​"Ada apa, San?" suara Alan terdengar sayup-sayup sampai ke telingaku.

​"Nggak," sahut Musan. "Cuma ngerasa ada 'hantu' kehausan aja."

​Sialan. Dia tahu. Si brengsek itu pasti tahu gue ngikutin.

Mereka melanjutkan perjalanan. Aku membeli tiket ke Jiufen, sama seperti mereka, dan menyelinap ke peron yang berbeda, bersembunyi di balik pilar beton sambil menunggu kereta datang. Mereka berdiri di dekat ujung peron, berbicara dengan nada rendah. Aku tidak bisa mendengar apa pun, hanya melihat gerakan bibir Musan yang konstan dan anggukan kepala Alan sesekali. Dia tidak terlihat tertarik. Atau mungkin dia hanya pandai menyembunyikannya.

Kereta tiba dengan derit rem yang memekakkan telinga. Pintu-pintu terbuka, menumpahkan segelombang penumpang dan menelan gelombang lainnya. Aku menunggu mereka naik lebih dulu, memilih gerbong yang sama tapi duduk empat baris di belakang, di dekat jendela yang sedikit buram. Aku menarik kerah jaketku lebih tinggi, menunduk seolah sedang membaca koran usang yang sengaja kubawa untuk penyamaran.

Dari celah di antara sandaran kursi, aku bisa melihat punggung mereka. Mereka duduk bersebelahan. Terlalu dekat. Roda kereta mulai berputar, menggetarkan seluruh gerbong dengan ritme yang monoton. Toko-toko dan rumah-rumah di Tamsui perlahan mundur, digantikan oleh hamparan sawah dan perbukitan yang mulai menanjak.

Aku tidak bisa mendengar percakapan mereka lagi di tengah deru mesin kereta. Aku hanya bisa mengamati. Musan menunjuk sesuatu di luar jendela. Alan menoleh, mengikuti arah telunjuknya. Sesaat, wajahnya diterpa cahaya keemasan dari matahari yang mulai terbenam. Di situ aku melihat ia tersenyum, senyum yang tak pernah kulihat selama ia menapaki pulau ini.

***

Lihat selengkapnya