Tanjung Hana

Rico Sumitomo
Chapter #33

Malam Pertukaran

[LUN BAO]

“Curang!”

Aku mengucapkan kata itu untuk ketiga kalinya saat kami turun dari tebing Jiufen.

“Kau pasti memberitahu soal taruhan itu pada Alan, bukan?” ucapku ketus. “Ini sudah jadi permainan yang tak adil. Curang.”

Musan mengangkat tangan, “Ini juga sudah di luar kalkulasiku, Bao. Kita pikir kita adalah pemain, namun ternyata kita cuma mainan di mata Alan.”

“Ayo cepet turun!” ujar Hana yang sudah turun beberapa langkah melewati kami. “Kita nggak mau ketinggalan bis terakhir, bukan?”

Kami bertiga langsung mempercepat langkah kami menuju halte. Namun tak disangka tak dinyana, bis terakhir sudah pergi tepat sedetik sebelum kami sampai ke halte.

“Asu. Asu tenan,” desisku. Kami bertiga terengah-engah, memegang tiang halte bis yang dingin ini dengan napas yang tersengal-sengal.

“Alamak, macam mana lah nih, Pakcik?”

Kalimat itu keluar bersamaan dari mulutku dan mulut Alan. Ini merupakan kalimat mantra yang sering kami sebut sewaktu kecil.

“Jangan khawatir, saudara-saudariku,” ujar Musan bak kesurupan pendeta. “Kita punya banyak rumah di kerajaan surga.”

Kami menatap Musan dengan tatapan kosong. Apa gunanya rumah di kerajaan surga kalau kita sekarang jadi gelandangan malam ini?

“Udah nggak usah takut,” ujar Musan. “Aku punya bibi di Ruifang, kita bisa menginap semalam di sana.”

Ingin sekali kami mengeroyok pemuda yang satu ini. Kenapa nggak bilang dari awal, coba?

“Kamu boleh lebih tua lima tahun daripada kami,” ucap Hana. “Tapi tolong jangan berlagak seolah kami ini cuma anak TK, oke?”

Musan tidak membalas, ia hanya berjalan selangkah lebih dulu menuruni gunung. Kami mengikuti Musan layaknya dua ekor anak bebek yang mengikuti induknya.

***

“Ai ya! Tumben kamu membawa teman kemari.”

Sosok bibi muncul di hadapan kami. Bukan tipikal bibi yang berumur enam puluh tahun tapi seorang gadis muda di usia dua puluhan.

“Hai, Pakme!” ucap Musan ceria. “Pakpak belum pulang?”

Lihat selengkapnya